
Ilustrasi seseorang yang kesulitan mengungkapkan perasaan karena memiliki trauma di masa kecil. (Freepik)
JawaPos.com – Kesulitan dalam mengungkapkan perasaan adalah hal yang umum dialami oleh banyak orang. Namun, tahukah Anda bahwa akar permasalahan ini sering kali bermula dari pengalaman masa kecil?
Masa kecil adalah periode kritis dalam perkembangan seseorang, di mana pengalaman-pengalaman yang dialami dapat meninggalkan jejak mendalam pada jiwa.
Menurut psikologi, Luka emosional yang dialami di masa kecil, seperti pengabaian, penolakan, atau trauma, dapat membentuk cara seseorang berinteraksi dengan dunia dan dirinya sendiri.
Salah satu dampak yang sering terlihat adalah kesulitan dalam mengungkapkan perasaan secara terbuka. Mereka mungkin merasa takut akan penolakan, penghakiman, atau bahkan hukuman jika mereka menunjukkan kerentanan mereka.
Akibatnya, mereka memilih untuk menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya dan membangun tembok pelindung di sekitar hati mereka.
Dilansir dari laman The Expert Editor, Selasa (13/8), Jawa Pos akan membahas delapan pengalaman masa kecil yang umum dialami oleh orang-orang yang kesulitan mengungkapkan perasaan mereka. Simak sampai akhir!
1. Pengalaman Diabaikan dan Tidak Divalidasi Perasaannya
Ketika anak-anak merasa perasaannya diabaikan atau diremehkan, mereka belajar untuk menekan emosi mereka. Mereka mungkin merasa bahwa perasaan mereka tidak penting atau tidak pantas untuk diungkapkan. Hal ini dapat membuat mereka kesulitan untuk terbuka tentang perasaan mereka saat dewasa.
2. Tumbuh di Lingkungan yang Tidak Membahas Emosi
Jika anak-anak tumbuh di lingkungan di mana emosi tidak dibicarakan atau dianggap tabu, mereka mungkin tidak belajar bagaimana mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan mereka dengan sehat. Akibatnya, mereka mungkin merasa canggung atau tidak nyaman saat harus berbicara tentang emosi mereka.
3. Terpapar pada Gagasan Bahwa Kerentanan Emosi adalah Kelemahan
Banyak budaya atau keluarga yang mengajarkan bahwa menunjukkan kerentanan adalah tanda kelemahan. Anak-anak yang tumbuh dengan pesan ini mungkin belajar untuk menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya dan menampilkan citra diri yang kuat dan mandiri.
4. Terpapar pada Respon Emosional yang Tidak Konsisten

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
