
Ilustrasi orang yang mengurung diri di kamar.
JawaPos.com - Terdapat banyak alasan ketika seseorang betah mengurung diri di kamar dan memilih untuk tidak berinteraksi dengan siapapun selama beberapa waktu.
Seseorang yang betah mengurung diri di kamar bisa karena sedang berduka, mendapat kegagalan masalah karier atau asmara, dan sekedar ingin istirahat dari padatnya aktivitas.
Ketika seseorang lebih betah mengurung diri di kamar juga bisa disebabkan kemajuan teknologi digital yang membuatnya nyaman berselancar di dunia maya ketimbang dunia nyata.
Hal ini menciptakan beragam pertanyaan bahwa apakah perilaku tersebut termasuk pengidap hikikomori? Simak penjelasannya berikut ini.
Dilansir dari laman Artikel Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, hikikomori adalah suatu kondisi pengasingan diri saat tidak adanya partisipasi sosial yang berlangsung setidaknya 6 bulan berturut-turut.
Maka jika seseorang mengurung diri di kamar dalam beberapa hari dan selanjutnya berkumpul dengan teman-teman, itu tidak termasuk pengidap hikikomori.
Awalnya hikokomori ini banyak terjadi di Jepang sebagai bentuk pelarian diri dari kerasnya kehidupan, hingga mereka lebih memilih untuk tidak berinteraksi dengan lingkungannya.
Namun belakangan ini orang yang mengidap hikikomori kerap terjadi di negara-negara lain termasuk Indonesia.
Hikikomori ini bisa terjadi karena berbagai hal, contohnya dari kinerja yang kurang baik di sekolah, kampus, atau tempat kerja.
Kemudian dari tindak bullying yang membuat orang tidak percaya diri dan takut menghadapi segala tantangan kehidupan.
Dengan perasaan tersebut, maka seseorang bisa mengalami hikikomori atau social withdrawal. Mereka akan menarik diri dari lingkungan sekolah, kampus, atau tempat kerja.
Dikutip dari laman Artikel Binus, Dinda Aliefia dalam tulisannya “Mengenal Hikikomori dan Penyebabnya”
dengan kemudahan teknologi saat ini, mereka yang mengidap hikikomori tentu lebih mudah menjalani kesehariannya dengan mengurung diri di kamar.
Mulai dari bekerja, membeli pakaian, makanan, atau minuman bisa dilakukan secara online tanpa harus pergi keluar atau interaksi dengan banyak orang.
Meskipun demikian, pengidap hikikomori dapat disembuhkan melalui terapi atau konsultasi dengan psikolog, serta dukungan orang sekitar untuk tidak mengolok-oloknya.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
