
Ilustrasi orang yang memiliki perilaku denial. (Freepik/krakenimages.com)
JawaPos.com - Perilaku denial merupakan suatu bentuk defence mechanism atau mekanisme pertahanan diri untuk meredakan kecemasan atau stres.
Seseorang yang berperilaku denial biasanya akan sulit menerima fakta dan selalu menyangkal terhadap keadaan yang sebenarnya. Hal ini akan berdampak baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Dikutip dari laman Artikel Enesis, dalam jangka pendeknya, perilaku denial berfungsi memberikan waktu kepada seseorang dalam menyesuaikan diri pada sebuah peristiwa.
Namun, perilaku denial dalam jangka panjangnya, bisa menyebabkan seseorang tidak menginginkan bantuan atau pengobatan yang seperlunya ia terima sehingga akan mengganggu kesehatan mental.
Ciri-ciri dari perilaku denial menghindar untuk membicarakan masalah yang terjadi, selalu membenarkan perilakunya meskipun salah dan merugikan, menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi, dan menarik diri dari lingkungan yang menyadarkannya.
Selain itu, orang yang berperilaku denial juga mungkin sedang ada pada tahap yang tidak berdaya atau putus asa. Meskipun mereka mengetahui masalah tersebut, tapi tak bisa melakukan satu hal apapun.
Dampak negatif dari perilaku denial adalah semakin memperparah masalah karena sikapnya yang menolak kenyataan. Maka jika mengalami hal ini berkepanjangan maka keadaanmu makin stres tak terkendali bahkan bisa membahayakan orang lain.
Perilaku denial juga dapat merusak suatu hubungan karena sikapnya yang menyangkal dan menolak untuk mengakui kesalahan, sehingga akan merenggangkan hubungan personal dengan siapapun.
Dilansir dari Artikel The Asian Parent, ada alasan seseorang yang berperilaku denial yaitu tak mau menghadapi situasi yang sulit, menghindari masalah yang terjadi, dan enggan menghadapi konsekuensi yang terjadi.
Jika seseorang yang berperilaku denial itu ingin berubah, maka perlu beberapa cara untuk mengatasinya yaitu luangkan waktu untuk memikirkan tentang hal yang ditakuti, serta beri ruang untuk memahami perasaan sendiri.
Kalau cara di atas belum efektif, maka alternatif terakhir adalah mencari bantuan profesional karena gangguan mental tersebut perlu penanganan khusus.
Sejatinya, masalah yang terjadi merupakan proses peningkatan fase kehidupan seseorang. Selama masih diberi kesempatan untuk hidup, permasalahan adalah hal yang tak bisa dihindari.
Kita hanya bisa berusaha dan berdoa kepada Tuhan, sehingga jika sudah berhasil melewatinya maka akan membuat diri sendiri menjadi lebih kuat dan mudah belajar dari kesalahan.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
