Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Mei 2024 | 17.05 WIB

Kecanduan Media Sosial Termasuk Gangguan Mental, Mitos atau Fakta? Simak Penjelasan Pakar dan Hasil Studi

Ilustrasi berselancar di media sosial. - Image

Ilustrasi berselancar di media sosial.

JawaPos.com - Internet dan teknologi sudah mengalami perkembangan pesat yang tidak mungkin untuk dapat dihindari. Produk hasil kemajuan internet dan teknologi ini salah satunya adalah media sosial yang diminati oleh berbagai kalangan.

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Dari pagi hingga malam, tidak sedikit dari kita yang terus menerus memeriksa ponsel untuk melihat notifikasi media sosial, menyukai unggahan teman, atau sekadar scrolling beranda media sosial. Bahkan bukanlah tidak mungkin jika muncul perasaan takut akan ketinggalan update, berita, atau trend terkini jika tidak membuka media sosial sebentar.

Namun, di balik kemudahan akses dan berbagai hiburan yang ditawarkan oleh media sosial, muncul pertanyaan serius: apakah kecanduan media sosial ini bisa dianggap sebagai gangguan mental? Perdebatan ini semakin relevan di era digital ini, di mana banyak orang merasa FoMO hingga tidak bisa lepas dari layar ponsel mereka.

JawaPos.com telah menyelami untuk mencari jawabannya. Kami akan membahas hasil studi dan menjabarkan penjelasan dari seorang pakar psikologi. Simak penjelasan lengkapnya untuk memahami apakah Anda, atau mungkin orang terdekat Anda, sedang mengalami kecanduan media sosial ini dan apa dampaknya terhadap kesehatan mental.

Dilansir dari Siaran Pers Universitas Airlangga Nomor: 103/UN3.23/MB/HM.01.03/2024, terdapat penjelasan mengenai gejala kecanduan media sosial, menurut Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Atika Dian Ariana, M.Sc, M.Psi. menjabarkan bahwa kecanduan media sosial dapat dikategorikan sebagai bagian dari problematik penggunaan internet yang berlebihan. Indikator yang menandai kecanduan media sosial ini seperti durasi, intensitas, dan frekuensi penggunaan yang melebihi batas wajar.

“Penggunaan yang melebihi 5 jam sehari dapat dianggap sebagai problematik. Terutama jika seseorang kehilangan kontrol dan terobsesi untuk terus mengakses platform tersebut. Faktor lain yang mencakup kecanduan media sosial adalah pengabaian terhadap aktivitas di dunia nyata, di mana individu lebih memilih untuk terlibat dalam kehidupan maya daripada kehidupan nyata,” ujar Atika dalam siaran pers tersebut.

Selain itu, terdapat penjelasan Atika mengenai dampak negatif penggunaan media sosial yang berlebihan bagi kesehatan fisik dan mental. Faktor yang dapat mengakibatkan masalah fisik seperti gangguan tidur dan kelelahan mata bisa disebabkan karena terlalu lama terpapar layar ponsel, posisi duduk yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik.

Kemudian secara mental, penggunaan media sosial secara berlebihan hingga menyebabkan kecanduan bisa menyebabkan depresi, kecemasan, atau hingga bahkan menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder) karena ketidakmampuan mengendalikan perilaku berulang untuk mengakses media sosial.

Lalu para peneliti juga turut ikut andil mencari jawaban tentang dampak kecanduan media sosial terhadap kesehatan mental ini. Dilansir dari laman resmi Yale Medicine, pada Kamis (13/5), Menurut sebuah penelitian terhadap remaja Amerika usia 12-15 tahun, mereka yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam setiap hari memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami dampak negatif berupa masalah kesehatan mental, termasuk gejala depresi dan kecemasan.

Selanjutnya, dari hasil studi lainnya menunjukkan bahwa potensi bahaya pada remaja perempuan dan mereka yang sudah mengalami masalah kesehatan mental memiliki tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi. Berikut beberapa dampak negatif yang dihasilkan media sosial, seperti depresi terkait cyber bullying, citra tubuh yang buruk, dan perilaku makan yang tidak sehat, serta kualitas tidur yang buruk yang dihubungkan dengan penggunaan media sosial.

Terdapat beberapa petunjuk yang dapat dilakukan, terutama bagi para orang tua yang khawatir terhadap intensitas penggunaan media sosial bagi anak remaja mereka, yang diungkapkan oleh YCSC Expert sebagai berikut :

1. Tentukan usia kapan anak Anda akan memiliki akses ke media sosial.

2. Jauhkan perangkat dari kamar tidur.

3. Pertahankan komunikasi yang terbuka, dan biarkan remaja Anda melakukan kesalahan.

4. Perhatikan pendekatan Anda saat berbicara dengan remaja Anda.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore