Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 April 2024 | 00.18 WIB

8 Ungkapan yang Sering Diucapkan Orang Tua Tak Bertanggung Jawab kepada Anak Menurut Psikologi

Ilustrasi ibu marah kepada anak dengan memberi label sama seperti ayahnya yang sering main hp saat diajak ngobrol. - Image

Ilustrasi ibu marah kepada anak dengan memberi label sama seperti ayahnya yang sering main hp saat diajak ngobrol.

JawaPos.com – Dalam membimbing anak sangat penting peran dan pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak. Ada perbedaan yang sangat tipis antara membimbing anak dengan secara tidak sengaja menyakiti mereka dengan kata-kata Anda.

Kata yang diucapkan orang tua selalu mempunyai kekuatan yang bisa membentuk citra diri, pandangan dunia hingga kesehatan mental anak secara keseluruhan. Namun terkadang ada beberapa orang tua tidak menyadari mengatakan sesuatu yang bisa memberikan dampak negatif ke anak baik fisik maupun batin.

Seorang psikolog telah mengidentifikasikan beberapa ungkapan yang sering digunakan oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab. Sejatinya orang tua sendiri tak ada niatan untuk menyakiti namun biasa merugikan daripada menguntungkan dalam jangka panjang.

Dilansir dari laman Hackspirit, terdapat beberapa ungkapan yang sering diucapkan orang tua yang tidak bertanggung jawab kepada anak menurut psikologi di antaranya:

1. "Karena aku bilang begitu"

Mengasuh anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Dalam proses asuh anak sering kali melibatkan pengambilan keputusan sulit dan menetapkan batasan bagi anak-anak. Seorang ahli psikolog menyatakan bahwa ungkapan tersebut dapat berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak.

Psikolog anak legendaris bernama Jean Piaget menegaskan bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk meningkatkan jumlah pengetahuan tetapi untuk menciptakan kemungkinan bagi seorang anak untuk menemukan dan menemukan.

Selain itu, ketika orang tua menggunakan ungkapan ini, mereka menutup kesempatan bagi anak mereka untuk memahami, bertanya, dan belajar. Bukan justru mendorong rasa ingin tahu anak dan berpikir kritis namun mendorong kepatuhan buta anak.

2. "Kamu sama seperti orang tuamu"

Membandingkan seorang anak dengan orang tuanya secara negative dapat menciptakan self-fulfilling prophecy yang merusak. Hal ini dapat membuat anak merasa ditakdirkan untuk mewarisi kekurangan dan kesalahan orang tuanya.

Setiap anak adalah unik dan harus didorong untuk mengembangkan identitasnya sendiri bukan justru dicap sebagai replika orang tuanya.

3. "Aku melakukan segalanya untukmu"

Ungkapan ini memang tampak seperti pelampiasan frustasi orang tua yang tidak berbahaya namun ungkapan ini dapat menanamkan benih rasa bersalah dan hutang pada seorang anak.

Hal ini bisa membuat anak merasa berhutang budi kepada orang tua karena menyediakan kebutuhan dasar dan perawatan. Orang tua sebenarnya harus menciptakan lingkungan dimana mereka merasa dicintai dan diperhatikan tanpa syarat.

4. "Kamu selalu/tidak pernah"

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore