
STEP-BY-STEP: Memberikan pengertian kepada anak lewat contoh atau permainan bisa membantu anak memahami konsep perpisahan. (ILUSTRASI. Diperagakan oleh Cliff Amstrong dan Elis Setyowati - Dite Surendra/Jawa Pos)
JawaPos.com – Soft skill atau kemampuan untuk beradaptasi maupun berkomunikasi dianjurkan untuk ditumbuhkan dan diasah sejak usia anak. Pengasahan soft skill yang meliputi kompetensi 5C yakni creativity, critical thinking, communication, collaboration, dan character, bisa membantu anak menghadapi tantangan ke depannya dalam bermasyarakat.
Anushia Senthevadivel selaku Principal Sampoerna Academy Surabaya Grand Pakuwon Campus, mengungkapkan, kompetensi 5C perlu ditumbuhkan sejak dini karena keterampilan tersebut bisa jadi jembatan kecerdasan dan pengetahuan anak tentang perannya di lingkungannya. Lantas, kapan waktu yang baik untuk mengajarkan soft skill 5C?
Diungkapkan Anushia, soft skill kompetensi 5C bisa diajarkan sejak masa periode emas. Orang tua bisa membiasakan anak dengan pembelajaran dan aktivitas yang memiliki keterampilan 5C.
“Karena di usia ini anak mempunyai inisiatif yang sangat besar untuk mengembangkan dirinya,” ujar Anushia dalam keterangan resminya.
Kompetensi 5C ini sebenarnya bisa dilakukan di rumah dalam keseharian dengan melibatkan anak. Misalnya mulai dari mengajarkan mengungkapkan kata ‘maaf’, ‘tolong’, dan ‘terima kasih’. Atau memberikan ruang anak untuk mengemukakan pendapatnya. Hingga membiarkan anak menemukan jalan jika menghadapi kesulitan ketika bermain.
Selain pengajaran yang dilakukan di rumah, pengembangan soft skill juga sangat perlu dilakukan di lingkungan sekolah. Sehingga sekolah perlu memasukan kompetensi 5C dalam keseharian. peran.
Psikolog Anak Elisabeth Santoso mengungkapkan, salah satu hal penting yang sekolah perlu terapkan dalam mengembangkan kompetensi 5C adalah peran guru. Di sini guru menjadi role model bagi para muridnya.
“Karena anak belajar dari melihat orang lain dalam membawa dirinya masing-masing, di mana dalam konteks sekolah, guru merupakan sosok yang sering berinteraksi dengan anak,” papar Alisabeth.
Lalu, sekolah tidak hanya memberikan materi akademik, namun menjadi sarana untuk mempraktekan soft skill-nya. Diluar pelajaran, sekolah juga menjadi sarana untuk anak berinteraksi dekat dengan teman-teman dan gurunya. Maka dari itu, sekolah harus mampu menciptakan lingkungan yang membuat anak dapat berinteraksi dengan lingkungannya.
“Misalnya, menyediakan pembelajaran tentang anti bullying, toleransi, empati terhadap teman dan sesama, serta mengajarkan nilai-nilai karakter,” jelas Elisabeth.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
