
Juru Bicara Covid-19 Achmad Yurianto mengenakan batik bermotif virus. (dok covid-19.go.id)
JawaPos.com - Ada yang berbeda dari penampilan Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto pada Sabtu (18/4) saat menyampaikan update kasus Covid-19. Busana batiknya tidak seperti motif pada umumnya. Kali ini ada sentuhan beraneka ragam bentuk virus pada busananya. Dengan dasar warna biru, virus mirip Korona itu bertaburan dibubuhi dengan pita simbol melawan HIV AIDS.
Apa makna Yurianto memakai busana batik tersebut? Tentu tujuan utamanya adalah mengajak publik tentang bahaya virus Korona yang harus dicegah dan diperangi bersama. Akan tetapi, dia menegaskan bahwa batik itu bukan bermotif virus Korona. Akan tetapi, batik yang sengaja dipersembahkan untuk aktivis HIV AIDS pada peringatan Hari AIDS Sedunia pada tahun lalu.
"Ya terserah kalau mau menyebutnya virus Korona, memang semua virus bulat-bulat begitu kok. Tapi ini adalah program Kementerian Kesehatan setahun lalu untuk membuatkan batik sebagai bentuk apresiasi bagi aktivis AIDS yang sudah kerja keras membantu kita," tegasnya saat berbicara dengan JawaPos.com lewat telepon, Minggu (19/4).
Yurianto mengungkapkan proses pembuatan batik tersebut ternyata merupakan sentuhan tangan perajin di Pekalongan. Desain secara garis besarnya disiapkan oleh Kemenkes kemudian dimodifikasi oleh para perajin.
"Kami kan punya desain, kamu bawa lah ke ahlinya yang ada di Pekalongan. Kami bilang, kami butuh batik kayak gini, bisa enggak bikinin? Oh bisa pak kata mereka. Tapi kalau bisa desainnya agak diubah-ubah dikit ya pak, supaya enggak menyulitkan. Ya terserah deh," cerita Yurianto.
Tapi karena ingin dibuat dalam jumlah banyak dan butuh waktu yang cukup singkat, maka batik tersebut dibuat berupa batik cap. Alasannya selain praktis, lebih cepat, dan lebih murah.
"Bikinnya cap saja, supaya bisa bikin banyak. Batik cap lah, kalau tulis jadinya lama dan mahal, jadinya cuma berapa. Cari yang murah-murah saja," katanya.
Maka dibuatlah dalam edisi 2 warna yakni biru seperti yang dikenakannya, dan warna lainnya adalah kuning. Selain 1 jenis virus yang berdiri tunggal berbentuk bulat serabut, ada juga model virus lain yang bergandengan pada busana tersebut. Itu semua adalah bentuk kreativitas perajin.
"Itu yang saya katakan, sama perajinnya bilang, pak dikasih bentuk lain ya, supaya enggak monoton. Itu hanya seni saja," katanya.
Maka menurut Yurianto sah-sah saja apa anggapan orang soal busananya itu. "Tapi orang bilangnya itu virus Korona, ya terserah saja. Wong imajinasinya boleh apa saja. Saya pun lihat biji kedondong kayak virus kok," katanya tertawa.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=JdzempCalxw
https://www.youtube.com/watch?v=uQYYdx_gjNc
https://www.youtube.com/watch?v=u3hMjacE1E0

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
