
NUANSA ANGGUN: Widianti Widjaja menggambar pola pada kain dengan menggunakan pensil. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)
Dari daftar nama pebatik peranakan di Kabupaten Pekalongan, nama Oey Soe Tjoen bisa dibilang salah satu yang paling dicari. Usaha batik tersebut kini diteruskan generasi ketiga, Widianti Widjaja.
---
”KAKEK saya (Oey Soe Tjoen) membuat batik sejak 1925,” ucapnya. Dua generasi di atas sang kakek awalnya berdagang batik di Pasar Kedungwuni.
Desain batik yang dihasilkan Oey Soe Tjoen umumnya memiliki motif buketan (rangkaian) bunga dengan warna kalem. Antara lain, hijau daun, merah marun, hingga kuning yang soft. Ada dua jenis batik yang diproduksi. Yaitu, kain panjang (jarit/tapih) dan sarung batik. Motif yang digarap Oey Soe Tjoen khusus bunga dan satwa. ”Untuk satwa, kami pakai kupu-kupu dan burung,” urai Widianti.
Desain batik Oey Soe Tjoen tidak pernah dibuat satu orang, tapi dibikin secara bersama. Widianti menyebutkan, Oey Soe Tjoen mencari inspirasi dari banyak hal. Mulai visual bunga secara nyata hingga kartu ulang tahun masa Hindia Belanda. Setelah mendapatkan inspirasi desain, Oey Soe Tjoen memanggil juru gambar untuk merepresentasikan keinginannya itu.
Pengembangan desain bisa memakan waktu lama. ”Setelah juru gambar menggambar, hasilnya ditunjukkan ke Oey Soe Tjoen dan istri (Kwee Nettie, Red) untuk dimintai persetujuan,” papar Widianti.
Setiap generasi batik Oey Soe Tjoen mempunyai ciri khas desain masing-masing. Widianti mengatakan, pada generasi pertama, Oey Soe Tjoen membuat banyak motif buketan, merak ati, urang ayu, dan cuwiri khas zat pewarna soga alam.
Standar jumlah buket pada kain panjang milik Oey Soe Tjoen hanya enam buah. Serta, ada empat buket per kain sarung. Motif buketan khas dengan gradasi warna. Jenis bunga yang biasa ditampilkan, antara lain, seruni, mawar, tulip, daffodil, sepatu, teratai, dan magnolia.
Di generasi kedua (Oey Kam Long dan Lie Tjien Nio), sekitar 1985, ada sedikit perubahan motif. Yaitu, motif cuwiri dihilangkan. Saat itu, motif cuwiri banyak di-printing. Oey Kam Long mulai menggunakan motif kupu-kupu besar. Ada motif burung gelatik juga. ’’Kalau Oey Soe Tjoen memakai burung kolibri,” tutur Widianti.
Nah, bagaimana dengan generasi ketiga saat dipegang Widianti? Tetap tidak meninggalkan identitas batik Oey Soe Tjoen dengan buketan. Kemudian, pada 2009, dia kembali memproduksi motif cuwiri setelah menerima pesanan dari Jerman.
Terpisah, tokoh peranakan Henri Susilo Pekasa mengatakan, pada zaman dulu kondisi sosial masyarakat peranakan di Pekalongan sangat tertutup. ’’Jadi, saat berbusana pun ya begitu, tidak berani menunjukkan budaya Tionghoa. Tidak seperti wilayah sebelahnya, Tegal, misalnya,” ujarnya.
Untuk urusan warna, lanjut Henri, batik peranakan Pekalongan memang cenderung kalem. Tidak terlalu mentereng. Ditengarai, hal itu dipengaruhi kondisi sosial masyarakat peranakan di Pekalongan yang sedikit tertutup saat itu.
AGAR KAIN BATIK TETAP AWET ALA WIDIANTI WIDJAJA

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
