
dr Atok Irawan SpP
KESAN kejawen saat memasuki kediaman dr Atok Irawan SpP di kawasan Pondok Mutiara begitu kentara pada Selasa (14/2). Mulai pintu gebyok kayu ukiran yang menghiasi depan rumah hingga mebel berbahan kayu. Berbagai ornamen tradisional pun menghiasi setiap sudut rumah. Kesannya begitu adem ketika berada di dalam rumah. ”Dalam fengsui, rumah dengan berbagai bahan kayu memang membuat suasana damai dan dingin,” katanya.
Konsep rumah bernuansa Jawa itu murni didesain sendiri dokter spesialis paru-paru tersebut. Begitu juga pemilihan ornamen-ornamen hingga furnitur. Alasannya, Atok memiliki hobi berburu barang-barang antik atau etnik. Hingga saat ini, kebiasaan itu tidak bisa ditinggalkan.
Atok menyatakan, hobi berburu barang antik dilakoni sejak 1993. Kala itu dia masih menjadi pegawai tidak tetap (PTT) sebagai dokter di Flores. Dia teracuni oleh kebiasaan Prof Koeshartono, dokter spesialis anestesi di Flores, yang juga pencinta barang-barang antik. ”Awalnya melihat seluruh rumah Prof Koeshartono yang dihiasi furnitur tradisional dan barang antik,” ujarnya.
Saat itu Atok belum memiliki rumah. Namun, Prof Koeshartono memberikan wejangan untuk mengumpulkan barang bekas antik dan perabot tradisional. Meskipun bekas, barang-barang tersebut bernilai artistik yang begitu memesona. ”Harganya jauh lebih murah, tetapi dapat disulap menjadi cantik,” ungkapnya.
Sejak itu, suami Prita Diana Dewi tersebut mulai jatuh cinta. Dengan gaji yang belum tinggi, Atok berusaha mengumpulkan satu per satu barang antik yang murah. ”Pas cuti, saya buktikan dengan datang ke kampung-kampung di Pulau Madura. Di sana, saya membeli tempat tidur yang rusak. Kaki-kaki ukiran tersebut saya beli,” tuturnya.
Rata-rata, kayu-kayu jati itu dijual dengan harga sangat murah. Ada peti-peti gerobok, lampu-lampu jadul, gebyok, rumah joglo, dan tempat tidur kayu Madura. Ada yang hanya senilai Rp 150–600 ribu. Kayu-kayu ukiran bekas tersebut dikumpulkan di rumah orang tuanya hingga menumpuk. ”Rumah ibu sampai dipenuhi barang-barang rongsokan saya. Sempat marah-marah. Kata ibu, beli kok barang rongsokan,” terangnya.
Pada 1996, Atok membangun rumah di Pondok Mutiara. Kesempatan itu dimanfaatkan Atok sebagai penyaluran hobi. Seluruh konsep rumah didesain sendiri. Mulai memasang gebyok kayu, menyulap kayu-kayu ukiran menjadi meja, hingga menata hiasan dinding. ”Mendapatkan barang-barang bekas seperti itu bergantung hoki. Saya selalu menunggu harga murah. Ada kayu ukiran yang hanya Rp 600 ribu. Sekarang dijual bisa Rp 12 juta,” ujar pria yang bercita-cita menjadi arsitek tersebut.
Atok menuturkan, saat mengambil program pendidikan dokter spesialis (PPDS) paru-paru di Surabaya pada 1997–2001, dirinya sempat menjual beli barang antik. Kini hobi tersebut lebih dinikmati untuk diri sendiri. ”Sekarang saya berburu banyak barang bekas antik untuk rumah sakit,” ucapnya.
Meski memiliki kesibukan yang cukup padat sebagai dokter spesialis paru-paru, Atok tetap menyempatkan diri untuk mampir ke tempat-tempat barang-barang antik. Hal itu dilakoni setiap melakukan perjalanan ke luar kota. Kadang, dia tidak membeli barang-barang antik tersebut, tetapi hanya menikmatinya. ”Melihat kayu-kayu ukiran bekas saja rasanya sudah nyaman,” paparnya.
Antok melihat banyak keindahan pada barang-barang antik. Karena itu, ketika lelah bekerja, dia menghilangkan penat hanya dengan duduk di rumah untuk menikmati hiasan-hiasan kayu ukiran. ”Saya bisa menikmati keindahannya. Biar tidak stres. Memang sederhana. Tetapi, saya suka,” tandasnya.
Selama ini barang-barang antik yang suka diburu adalah kayu-kayu ukiran. Misalnya, kayu jati ukiran Madura. Mulai pintu-pintu rumah kayu yang rusak hingga kaki tempat tidur. ”Kadang saya dapat hanya potongan kayu. Tetapi, saya bikin jadi hiasan kaca. Kadang bisa jadi meja. Bergantung kreativitas imajinasi saya,” paparnya. Hingga kini, Atok berkeliling ke berbagai kota. Mulai Surabaya, Madura, Banyuwangi, Malang, Probolinggo, hingga Tuban. (septinda ayu pramitasari/c16/dio/sep/JPG)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
