
Sate Klathak Pak Pong, salah satu menu khas Jogja yang selalu ramai. (Instagram Sate Klatkah Pak Pong)
JawaPos.com-Musim liburan memang perlahan berakhir. Banyak wisatawan sudah kembali ke kota asal, lalu lintas di pusat kota Jogjakarta tak lagi sepadat beberapa pekan lalu. Namun jangan salah, urusan kuliner di Kota Gudeg nyaris tak pernah ikut sepi.
Justru di momen setelah liburan inilah kamu bisa melihat satu hal menarik: beberapa tempat makan legendaris di Jogjakarta tetap dipadati antrean. Bukan hanya oleh wisatawan yang sengaja menyempatkan diri sebelum pulang, tapi juga warga lokal yang setia menjaga tradisi rasa.
Kalau kamu sedang atau berencana ke Jogjakarta di luar musim liburan, enam kuliner berikut bisa jadi rujukan. Rasanya konsisten, ceritanya panjang, dan antreannya seolah jadi bukti bahwa kelezatan tak kenal musim.
Gudeg Pawon sudah lama dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Jogjakarta. Berbeda dari warung gudeg kebanyakan, di sini kamu mengambil makanan langsung dari pawon atau dapur rumah pemiliknya.
Gudegnya bercita rasa manis-gurih dengan krecek pedas yang kuat. Waktu terbaik datang justru malam hari, bahkan menjelang tengah malam. Meski harus antre dan makan berdiri, banyak orang tetap rela menunggu demi sepiring gudeg legendaris ini.
Kalau kamu pencinta olahan kambing, Sate Klathak wajib masuk daftar. Keunikannya ada pada tusukan jeruji sepeda yang membuat daging matang merata.
Baik Sate Klathak Pak Bari maupun Pak Pong sama-sama terkenal dengan daging empuk dan bumbu minimalis. Disajikan bersama kuah gulai yang ringan, sate ini selalu ramai saat jam makan malam, meski Jogjakarta sudah tak seramai musim liburan.
Oseng Mercon Bu Narti dikenal dengan level pedasnya yang 'serius'. Cabai rawit melimpah berpadu dengan potongan daging sapi membuat satu porsi oseng ini benar-benar menguji ketahanan lidah Anda. Biasanya mulai ramai saat malam hari.
Banyak pengunjung datang dengan satu tujuan: mencari sensasi pedas yang bikin ketagihan. Jangan lupa siapkan minuman dingin, karena 'mercon'-nya bukan sekadar nama.
Bakmi Jawa Mbah Mo adalah contoh bagaimana kesabaran menghasilkan rasa. Setiap porsi dimasak satu per satu menggunakan anglo, membuat waktu tunggu cukup lama.
Namun saat bakmi panas mengepul tersaji di depanmu, semua terbayar. Rasanya ringan, gurih, dan autentik. Tak heran, meski bukan musim liburan, antrean tetap jadi pemandangan biasa di sini.
Kopi Klotok bukan sekadar tempat minum kopi. Kamu datang ke sini untuk menikmati suasana pedesaan, kopi tubruk panas dari arang, dan menu rumahan seperti sayur lodeh, telur dadar, hingga pisang goreng.
Nama 'klotok' diambil dari bunyi kopi saat dimasak. Cocok dikunjungi pagi atau sore hari. Bahkan ketika wisatawan berkurang, antrean sarapan di Kopi Klotok tetap bertahan.
Angkringan Kopi Joss Lik Man sudah jadi legenda malam Jogjakarta. Berlokasi dekat Stasiun Tugu, tempat ini terkenal dengan kopi panas yang diberi arang membara langsung ke dalam gelas. Sensasi bunyi 'joss' dan aroma arang jadi daya tarik tersendiri. Malam hari adalah waktu terbaik berkunjung, saat suasana kota terasa lebih santai namun tetap hidup.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
