Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Maret 2025 | 12.55 WIB

Sejarah dan 7 Fakta Unik Nastar, Kue Lebaran yang Selalu Ada di Meja

Tips Agar Nastar Mengkilap dan Tidak Mudah Retak./YouTube Figo Alfares - Image

Tips Agar Nastar Mengkilap dan Tidak Mudah Retak./YouTube Figo Alfares

JawaPos.com - Nastar menjadi salah satu kue kering yang selalu hadir di setiap rumah saat perayaan Idulfitri. Kue mungil dengan isian selai nanas ini memiliki rasa manis, sedikit asam, dan tekstur yang lembut, membuat siapa pun sulit berhenti memakannya.

Namun, di balik popularitasnya, nastar memiliki sejarah panjang yang menarik. Berikut fakta-fakta unik tentang kue nastar yang tak banyak diketahui.

  1. Berasal dari Belanda
    Meskipun kini sangat identik dengan Lebaran di Indonesia, nastar sebenarnya berasal dari Belanda. Nama nastar sendiri berasal dari bahasa Belanda, nastaart, yang merupakan gabungan dari kata ananas (nanas) dan taart (pai atau kue).

Kue ini awalnya merupakan bagian dari budaya kuliner Belanda dan dibawa ke Indonesia pada masa kolonial. Seiring waktu, nastar mengalami adaptasi dan menjadi salah satu hidangan wajib saat hari raya.

  1. Awalnya Tidak Berisi Selai Nanas
    Nastar versi asli di Belanda biasanya menggunakan isian buah beri seperti blueberry atau apel. Namun, karena buah-buahan tersebut sulit ditemukan di Indonesia pada masa lalu, masyarakat menggantinya dengan nanas yang lebih mudah didapat dan memiliki rasa manis asam yang khas.

Ada dugaan bahwa penggunaan nanas dipengaruhi oleh bangsa Portugis, yang membawa buah ini ke berbagai wilayah tropis, termasuk Indonesia.

  1. Dulu Berbentuk Pipih
    Nastar yang kita kenal sekarang berbentuk bulat kecil dengan isian selai nanas di dalamnya. Namun, awalnya kue ini berbentuk pipih seperti pai khas Eropa.

Orang Indonesia kemudian mengadaptasi bentuknya menjadi bulat kecil agar lebih praktis disantap dalam sekali gigitan. Kini, nastar hadir dalam berbagai bentuk lain seperti gulung, daun, hingga keranjang untuk variasi tampilan.

  1. Populer Berkat Pertukaran Budaya
    Kuliner Hindia Belanda berkembang pesat berkat banyaknya publikasi buku resep pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Nastar termasuk dalam salah satu kue yang resepnya menyebar luas berkat buku-buku masakan serta majalah perempuan yang terbit saat itu.

Pada era kolonial, kue kering seperti nastar lebih sering dinikmati oleh keluarga Belanda dan kaum priyayi atau bangsawan kaya. Namun, seiring waktu, masyarakat Indonesia pun mengadopsi kebiasaan ini, terutama saat momen Lebaran.

  1. Menjadi Kue Wajib Bingkisan Sejak Zaman Penjajahan
    Tradisi memberikan bingkisan kue kering saat hari raya ternyata sudah ada sejak zaman kolonial. Awalnya, nastar menjadi kue yang diberikan kaum elit Belanda kepada kerabat mereka saat Natal.

Seiring waktu, kebiasaan ini ditiru oleh masyarakat Indonesia, yang menjadikannya bingkisan khas Lebaran. Kini, nastar hampir selalu ada dalam toples di setiap rumah saat Idulfitri.

  1. Dianggap Membawa Keberuntungan
    Dalam budaya Tionghoa, nastar disebut sebagai ong lai, yang berarti "buah pir emas." Dalam mitologi mereka, buah ini melambangkan kemakmuran, kelimpahan rezeki, dan keberuntungan.

Karena makna filosofisnya, banyak masyarakat yang percaya bahwa menyajikan nastar saat perayaan besar, termasuk Lebaran, bisa membawa keberuntungan dan rezeki yang berlimpah.

  1. Populer di Negara Tetangga
    Tak hanya di Indonesia, nastar juga populer di Malaysia, Singapura, dan Taiwan.

Di Malaysia dan Singapura, nastar disebut pineapple tart dan lebih dikenal sebagai bagian dari kuliner Peranakan. Biasanya, nastar di sana berbentuk bunga dengan selai nanas di atasnya.

Sementara di Taiwan, kue ini disebut fènglísū dan memiliki bentuk yang berbeda, yaitu kotak dengan rasa lebih manis dan renyah. Varian di Taiwan juga kadang diisi dengan buah kundur sebagai alternatif selai nanas.

Nastar memang lebih dari sekadar kue Lebaran. Dengan sejarah panjang dan makna filosofisnya, kue ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner di Indonesia dan berbagai negara lainnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore