Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Agustus 2026 | 20.28 WIB

BI Hadapi Tantangan Baru: Bukan Cuma Inflasi, Tapi Kripto hingga CBDC

Diskusi Economic Frontline bertajuk Masa Depan Bank Sentral di Era Dunia yang Terfragmentasi: Menakar Tren Managed Interdependence Global dan Implikasinya terhadap Bank Indonesia di Javarock Kemang, Kamis (20/8). (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Diskusi Economic Frontline bertajuk Masa Depan Bank Sentral di Era Dunia yang Terfragmentasi: Menakar Tren Managed Interdependence Global dan Implikasinya terhadap Bank Indonesia di Javarock Kemang, Kamis (20/8). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Bank Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perubahan sistem keuangan global dan berkembangnya aset digital.

Dalam diskusi Economic Frontline bertajuk Masa Depan Bank Sentral di Era Dunia yang Terfragmentasi: Menakar Tren Managed Interdependence Global dan Implikasinya terhadap Bank Indonesia di Javarock Kemang, Kamis (20/8), perkembangan kripto, Central Bank Digital Currency (CBDC), dan stablecoin turut menjadi perhatian.

Direktur Utama Nawasena Utama Capital Prayoga Putera Utama mengatakan perkembangan digital currency perlu menjadi perhatian Bank Indonesia karena berkaitan dengan stabilitas moneter. Menurutnya, arus masuk dan keluar aset digital, terutama kripto, tidak lagi semata-mata menjadi persoalan regulasi pasar.

Dia berharap, untuk Gubernur BI mendatang adalah sosok yang paham aset berbasis digital, bukan hanya instrumen konvensional. Selain itu, harus mampu membaca tren global seperti CBDC (Central Bank Digital Currency), stablecoin, dan regulasi internasional.

“Dengan begitu, BI bisa menjaga keseimbangan antara inovasi finansial dan stabilitas moneter," katanya.

Prayoga menilai perubahan tersebut perlu diantisipasi karena perkembangan sistem keuangan digital berlangsung bersamaan dengan dinamika pasar global. Bagi Bank Indonesia, kemampuan membaca perubahan itu menjadi penting agar kebijakan yang diambil tetap mampu menjaga stabilitas tanpa menghambat inovasi finansial.

Dalam diskusi tersebut, Prayoga juga mengaitkan perkembangan aset digital dengan kondisi pasar secara lebih luas. Menurutnya, Indonesia memiliki kapitalisasi pasar yang besar dibandingkan sejumlah negara tetangga sehingga menjadi salah satu tujuan investor global.

Likuiditas pada saham-saham berkapitalisasi besar, seperti sektor perbankan, energi, dan telekomunikasi, membuat investor asing memiliki ruang untuk masuk dalam volume besar. Namun, tingginya volatilitas di pasar negara berkembang juga menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi investor.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore