Ilustrasi harga Bitcoin yang terus meroket naik. (Dhimas Ginanjar/Dall-E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Bitcoin kembali menjadi pusat perhatian pasar pada awal Oktober 2025. Harga BTC saat ini berada di USD 120 Ribu atau nyaris Rp 2 miliar (kurs Rp 16.650).
Dikutip dari BeInCrypto, Jumat (3/10), dorongan utama reli ini berasal dari meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve (The Fed) hampir pasti memangkas suku bunga pada Oktober.
Menurut CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin kini mencapai 99 persen, yang akan membawa suku bunga ke kisaran 3,75–4,00 persen.
Salah satu pemicu meningkatnya ekspektasi rate cut adalah laporan ketenagakerjaan ADP yang menunjukkan adanya 32.000 pengurangan tenaga kerja sektor swasta pada September. Angka itu jauh di bawah ekspektasi penambahan 51.000 pekerja dan menjadi penurunan terdalam sejak Maret 2023.
Kondisi makin rumit dengan terjadinya shutdown pemerintahan Amerika Serikat setelah Kongres gagal mencapai kesepakatan anggaran. Akibatnya, laporan ketenagakerjaan resmi nonfarm payrolls yang biasanya dirilis BLS ditunda. Bahkan, jika shutdown berlanjut, laporan inflasi (CPI) 15 Oktober juga bisa tertunda.
Oxford Economics memperingatkan, penutupan pemerintah bisa memangkas PDB Amerika Serikat hingga 0,2 persen per minggu jika berkepanjangan.
“Jika shutdown singkat, dampaknya mungkin hanya sebatas gangguan kecil. Tetapi jika berlangsung lama dan diikuti PHK massal, bisa menimbulkan kerusakan besar,” kata Ryan Sweet dari Oxford Economics, dikutip oleh Fortune.
Fenomena ini menempatkan Bitcoin sejajar dengan emas dan perak yang juga naik karena sentimen safe haven. Analis veteran Ira Epstein menjelaskan bahwa arus masuk ke aset lindung nilai seperti logam mulia kini juga berlaku bagi Bitcoin.
“Saya sudah menduga akan ada reli pada emas dan perak,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa tren yang sama kini terlihat pada BTC.
Arus masuk ke ETF Bitcoin pun terus menopang permintaan institusional. Kombinasi antara pelemahan dolar, penguatan obligasi, dan rotasi investor ke aset lindung nilai membuat Bitcoin semakin dipandang sebagai instrumen yang stabil di tengah ketidakpastian.
Meski reli ke USD 120.000 tampak menguat, sejumlah analis mengingatkan agar investor tetap waspada. Jika shutdown berkepanjangan memicu kepanikan di pasar ekuitas dan aset berisiko, Bitcoin bisa ikut terkoreksi.
“Aset kripto masih tergolong berisiko tinggi, sehingga bisa tertekan jika sentimen pasar berbalik,” tulis laporan BeInCrypto.
Namun, selama The Fed tetap pada jalur pemangkasan suku bunga, pasar memandang Oktober sebagai momen penting bagi institusionalisasi Bitcoin. Aset ini semakin berperilaku seperti safe haven makro ketimbang sekadar instrumen spekulatif.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
Siaran Tunda Moto3 Inggris 2026! Ini Jadwal dan Link Live Streaming Veda Ega Pratama di Silverstone
Juara Piala Presiden 2026! 3 Pemain Persebaya Jalani Pemulihan Jelang Super League 2026/2027
