Ilustrasi Tether yang melakukan pembelian bitcoin dalam jumlah besar. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Pasar stablecoin kembali heboh setelah dua raksasa penerbitnya, Tether dan Circle, mencetak hampir USD 2,8 miliar atau setara Rp 46,6 triliun token baru hanya dalam 24 jam terakhir.
Langkah ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan komunitas kripto, terutama karena volume transaksi USDT dan USDC tidak menunjukkan lonjakan signifikan.
Dikutip dari BeInCrypto, Jumat (3/10), penerbitan masif stablecoin ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan regulasi terhadap aset digital.
“Dengan regulasi stablecoin yang segera datang dan ketiadaan audit pihak ketiga, aktivitas ini memicu skeptisisme komunitas,” tulis laporan tersebut.
Tether, penerbit stablecoin terbesar dunia, pekan lalu juga sempat mencetak tambahan USD 5 miliar atau Rp 83,2 triliun. Sementara Circle lebih berhati-hati dengan jumlah lebih kecil, namun tetap aktif menambah pasokan USDC.
Kedua langkah ini memberi mereka ruang besar untuk menyuntikkan likuiditas ke ekosistem Web3 secara masif.
Namun, alasan di balik langkah agresif ini belum jelas. “Tether memang dikenal agresif mengejar valuasi, tetapi Circle seharusnya tidak perlu ikut serta,” kata laporan tersebut.
Di media sosial, muncul spekulasi bahwa pencetakan token dalam jumlah raksasa ini bisa terkait upaya “pump market” untuk mengerek harga aset kripto. Namun, tanpa data transaksi yang mendukung, tudingan ini masih sebatas dugaan.
Masalah lainnya, Tether hingga kini belum pernah menjalani audit independen yang transparan. Banyak analis meragukan nilai jangka panjang USDT dan USDC jika tidak ada bukti cadangan yang sepadan.
Kedua perusahaan ini juga menghadapi potensi hambatan dari RUU GENIUS Act di Amerika Serikat. Jika disahkan, undang-undang itu bisa melarang stablecoin yang tidak memenuhi standar kepatuhan, termasuk kewajiban audit rutin dan kepemilikan obligasi pemerintah AS untuk setiap token yang beredar.
“Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa Tether dan Circle benar-benar menyimpan obligasi senilai pasokan stablecoin mereka,” tulis BeInCrypto. Meski keduanya dilaporkan membeli obligasi dalam jumlah besar, nilainya masih jauh dari total pasokan token yang beredar.
Hingga kini, belum ada penjelasan jelas mengenai alasan Tether dan Circle mencetak stablecoin dalam jumlah masif. Tanpa transparansi cadangan dan audit independen, kecurigaan publik masih akan terus membayangi.
Bagi investor, langkah ini menjadi sinyal untuk lebih berhati-hati, karena stabilitas USDT dan USDC sedang berada di bawah sorotan besar.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
