Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 17.18 WIB

Red September di Dunia Kripto: Mitos atau Fakta? Ini Sejarah dan Dampaknya ke Bitcoin

Ilustrasi Red September yang identik dengan turunnya harga Bitcoin maupun kripto secara umum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Red September yang identik dengan turunnya harga Bitcoin maupun kripto secara umum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Bulan September dikenal sebagai bulan kutukan bagi pasar kripto. Para trader menyebutnya dengan istilah Red September, yakni pola penurunan harga Bitcoin dan aset kripto lain yang konsisten terjadi hampir setiap tahun.

Fenomena ini begitu kuat, hingga dianggap sebagai salah satu indikator musiman paling ditakuti oleh investor kripto.

Red September bukan sekadar narasi kosong. Sejak 2013, Bitcoin tercatat mengalami penurunan harga rata-rata sebesar 3,77 persen setiap bulan September. Data ini didasarkan pada pantauan kolektif dari berbagai sumber, termasuk Coinglass, CoinMarketCap, hingga platform analisis on-chain seperti CryptoQuant.

Sejarah Red September: Dari Wall Street Menular ke Kripto

Istilah ini berakar dari dunia keuangan tradisional. Di pasar saham Amerika Serikat, bulan September sudah lama dikenal sebagai bulan dengan performa terburuk. Indeks S&P 500, misalnya, mencatat rata-rata return negatif selama September sejak tahun 1928.

Pola itu kini menular ke kripto. Mengapa? Karena tekanan makro di Wall Street hampir selalu merembet ke kripto, terutama karena investor institusional kini memiliki eksposur di kedua pasar tersebut.

Hal ini diperparah oleh karakteristik unik pasar kripto yang 24/7 tanpa henti, tanpa adanya batasan jam perdagangan seperti di bursa saham. Artinya, tekanan jual di satu pasar bisa langsung memicu efek domino dalam waktu singkat, terlebih jika melibatkan likuidasi posisi leverage atau perpindahan aset besar dari whale.

Rekam Jejak Bitcoin di Bulan September (2013–2024)

Berikut ini adalah data kinerja Bitcoin selama bulan September dari 2013 hingga 2024, dihimpun dari berbagai sumber termasuk Coinglass dan CoinMarketCap:

Tahun Harga Awal September Harga Akhir September %
2013 USD 120 USD 137 +14,2%
2014 USD 477 USD 386 -19,1%
2015 USD 232 USD 236 +1,7%
2016 USD 572 USD 600 +4,9%
2017 USD 4.690 USD 4.293 -8,5%
2018 USD 7.061 USD 6.625 -6,2%
2019 USD 9.626 USD 8.243 -14,4%
2020 USD 11.663 USD 10.778 -7,6%
2021 USD 47.153 USD 43.825 -7,0%
2022 USD 20.049 USD 19.431 -3,0%
2023 USD 25.900 USD 26.970 +4,1%
2024 USD 26.000 USD 27.980 +7,6%

Dari total 12 tahun, hanya 4 kali Bitcoin mencetak kenaikan di bulan September. Sisanya, sebanyak 8 kali, harga justru turun, dengan penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2014 dan 2019.

Secara keseluruhan, rata-rata kinerja Bitcoin selama bulan September berada di angka -3,77 persen, dan jika ditarik hanya 5 tahun terakhir, rata-ratanya mulai membaik menjadi -2,55 persen, menandakan bahwa dampak Red September mulai melemah seiring kedewasaan pasar kripto.

Apa Penyebab Utamanya?

Ada beberapa faktor yang secara konsisten memicu tekanan jual di bulan September:

1. Rebalancing Dana Investasi: Banyak manajer dana menutup tahun fiskal pada bulan September. Mereka akan menjual aset yang menguntungkan untuk mengunci profit atau menjual rugi untuk keperluan tax-loss harvesting.

2. Kembali dari Libur Musim Panas: Trader profesional kembali dari liburan dan mulai melakukan revaluasi portofolio. Biasanya, keputusan rasional setelah liburan ini justru memicu aksi jual di aset berisiko seperti kripto.

3. Ketidakpastian dari The Fed: Rapat Federal Reserve atau FOMC Meeting hampir selalu digelar di bulan September. Ketika belum jelas apakah suku bunga akan dipotong atau ditahan, investor cenderung risk-off alias menghindari aset berisiko.

4. Psikologi Pasar: Seperti dikatakan Yuri Berg dari FinchTrade kepada Decrypt, Red September bisa jadi hanyalah bentuk “ramalan yang terpenuhi sendiri”. Ketika semua orang yakin harga akan turun, mereka cenderung menjual lebih awal, dan itulah yang memicu penurunan itu sendiri.

Apakah Tahun Ini Akan Sama?

Data awal menunjukkan tekanan sudah terasa. Pada akhir Agustus 2025, Bitcoin kembali bergerak di bawah support krusial USD 110.000 (sekitar Rp 1,78 miliar). Volume perdagangan rendah, dan Crypto Fear and Greed Index menurun dari angka 74 ke 52, mendekati zona netral.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore