Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Agustus 2025 | 17.12 WIB

Red September is Coming? Mengapa Harga Bitcoin Selalu Jatuh di Bulan Ini?

Ilustrasi Red September yang identik dengan turunnya harga Bitcoin maupun kripto secara umum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Red September yang identik dengan turunnya harga Bitcoin maupun kripto secara umum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – September belum tiba, tapi pasar kripto sudah diliputi kecemasan. Fenomena tahunan yang dikenal dengan nama Red September kembali menghantui para trader. Sejak 2013, Bitcoin rata-rata jatuh 3,77 persen setiap bulan September, dan tahun ini tanda-tanda itu kembali muncul.

Menurut data dari Decrypt, Sabtu (30/8), Bitcoin kini diperdagangkan sideways di kisaran USD 109.000 atau sekitar Rp 1,77 miliar, menjelang bulan yang selama satu dekade terakhir terkenal sebagai masa sulit bagi aset digital tersebut.

Fenomena ini bukan sekadar mitos. Sejak 1928, indeks saham S&P 500 Amerika Serikat mencatat kinerja terburuknya di bulan September, dan pola itu rupanya juga menjalar ke dunia kripto. Bahkan, dalam 11 tahun terakhir, Bitcoin telah delapan kali jatuh pada bulan September, dan hanya tiga kali mencetak keuntungan.

"Polanya sudah terbentuk. Setiap akhir Agustus, percakapan negatif di media sosial meningkat, diikuti lonjakan pengiriman Bitcoin ke bursa dalam 48–72 jam," kata Yuri Berg, konsultan dari perusahaan likuiditas kripto FinchTrade yang berbasis di Swiss.

Berg menilai, Red September kini bukan lagi sekadar anomali musiman, tapi sudah menjadi eksperimen psikologi pasar. “Seluruh pasar seperti mengondisikan dirinya untuk menjual hanya karena faktor sejarah, bukan karena fundamental saat ini,” ujarnya.

Tekanan September memang kompleks. Secara tradisional, banyak dana kelolaan di Wall Street menutup tahun fiskal mereka pada bulan ini, sehingga melakukan penyesuaian portofolio dan tax loss harvesting. Hal ini memicu aksi jual besar-besaran, yang kemudian menyebar ke pasar kripto.

Tak hanya itu, Federal Reserve juga akan menggelar rapat penting pada 17–18 September mendatang. Ketidakpastian kebijakan suku bunga membuat investor menahan diri, sambil menunggu sinyal arah kebijakan moneter.

Menurut CEO InFlux Technologies, Daniel Keller, gejolak saat ini diperparah oleh kondisi global yang tak kalah serius. “Kita menghadapi dua konflik bersenjata besar di Eropa dan Timur Tengah, ditambah perang dagang Amerika Serikat dengan banyak sekutunya,” ungkap Keller.

Ia memperingatkan bahwa semua faktor itu bisa menciptakan badai sempurna yang mendorong Bitcoin turun drastis. “Saat ini pasar tidak melihat Bitcoin sebagai lindung nilai, tapi lebih sebagai aset berisiko tinggi,” katanya.

Secara teknikal, situasinya juga tidak menggembirakan. Bitcoin telah jatuh di bawah support penting di USD 110.000 (Rp 1,78 miliar) yang menjadi penopang sejak Mei. Kini, trader memantau level USD 105.000 (Rp 1,71 miliar) sebagai “batas kritis”. Jika tembus, maka potensi turun ke bawah USD 100.000 (Rp 1,63 miliar) terbuka lebar.

Volume transaksi Bitcoin saat ini juga 30 persen lebih rendah dibanding rata-rata bulan Juli, menunjukkan minimnya likuiditas untuk menahan potensi lonjakan volatilitas.

Di platform prediksi Myriad, sebanyak 75 persen trader memperkirakan harga Bitcoin akan turun menyentuh USD 105.000, menandakan bahwa pasar sudah bersiap menghadapi skenario terburuk.

Meski begitu, tak semua pihak pesimis. CEO platform riset DYOR, Ben Kurland, justru menilai Red September hanyalah mitos yang terus direproduksi. “Dulu Bitcoin jatuh karena volume pasar yang kecil dan investor ritel panik. Sekarang kondisinya berbeda. Likuiditas lebih kuat, adopsi institusional lebih luas, dan bahkan ETF mulai masuk,” ujar Kurland.

Ia menambahkan, tekanan inflasi inti yang masih tinggi memang jadi tantangan, tapi pasar juga menaruh harapan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga.

Menariknya, dalam dua tahun terakhir, Bitcoin justru mencetak kenaikan di bulan September, yang menunjukkan bahwa siklus ini mungkin mulai melemah seiring kedewasaan pasar kripto.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore