Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 17.43 WIB

Stablecoin Mandek, Bitcoin Terancam Kehilangan Amunisi untuk Naik

Ilustrasi bitcoin yang sedang "tertidur" karena tidak ada pergerakan market yang signifikan. (Dhimas Ginanjar/Dall-E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi bitcoin yang sedang "tertidur" karena tidak ada pergerakan market yang signifikan. (Dhimas Ginanjar/Dall-E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Kenaikan harga Bitcoin dalam 24 jam terakhir memang mencatatkan kenaikan nyaris 2 persen dan kini berada di sekitar USD 113.400 atau setara Rp 1,84 miliar. Namun, di balik pergerakan harga itu, para analis mulai mengkhawatirkan melemahnya likuiditas pasar kripto secara keseluruhan.

Laporan dari perusahaan analitik on-chain CryptoQuant menyebutkan bahwa pertumbuhan kapitalisasi pasar stablecoin mengalami perlambatan tajam. Saat ini, aliran dana ke stablecoin hanya naik sekitar USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 17,9 triliun per minggu. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan inflow sebelumnya yang mencapai USD 7,7 miliar pada akhir 2024 dan USD 6,6 miliar pada Januari lalu.

Stablecoin sendiri merupakan jenis aset kripto yang nilainya dipatok ke mata uang fiat, terutama dolar Amerika. Umumnya, investor menyimpan dana dalam bentuk stablecoin untuk menghindari volatilitas harga dari Bitcoin dan altcoin. Namun, stablecoin juga sering dianggap sebagai “bahan bakar” yang siap digunakan untuk masuk kembali ke aset volatil ketika pasar kembali bergairah.

Menurut CryptoQuant, saat inflow ke stablecoin tinggi, itu menjadi sinyal pasar akan kembali ramai. Sebaliknya, saat pertumbuhan stagnan, seperti sekarang, itu menunjukkan gairah investor sedang menurun. “Tailwinds atau angin penopang likuiditas saat ini melemah, dan ini bisa membatasi momentum kenaikan Bitcoin,” tulis laporan tersebut, Jumat (29/8).

Grafik dari CryptoQuant menunjukkan bahwa meskipun awal bulan ini sempat terjadi lonjakan inflow stablecoin hingga USD 4,8 miliar, aliran dana tersebut cepat menghilang. Sekarang, angka inflow turun drastis ke USD 1,1 miliar. Ini memperkuat asumsi bahwa sentimen pasar sedang dalam fase jenuh atau setidaknya menahan diri.

Investor Masih Tahan Rugi

Namun, ada satu kabar positif yang datang dari Glassnode. Firma analitik on-chain tersebut mengungkapkan bahwa Relative Unrealized Loss atau kerugian belum terealisasi yang dimiliki investor Bitcoin saat ini tergolong rendah.

Nilainya hanya 0,5 persen dari total kapitalisasi pasar, yang berarti sebagian besar investor masih “menahan” posisi mereka dan tidak buru-buru menjual meskipun harga sempat terkoreksi. Sebagai perbandingan, di masa-masa bear market sebelumnya, angka ini bisa jauh lebih tinggi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski tekanan dari sisi likuiditas mulai terasa, pasar belum memasuki fase panik. Para investor tampaknya masih percaya bahwa reli lanjutan bisa terjadi, asalkan ada pemicu kuat dari sisi fundamental maupun sentimen global.

Penantian Faktor Pemicu Baru

Dengan melemahnya aliran dana masuk ke stablecoin, yang biasa digunakan untuk membeli Bitcoin dan altcoin lainnya, pasar kemungkinan besar akan bergerak lambat dalam waktu dekat. Apalagi, jika kondisi ini berlanjut menjadi outflow atau penarikan dana, tekanan jual bisa muncul.

Hingga kini, investor menanti apakah The Fed akan benar-benar memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Jika itu terjadi, likuiditas bisa kembali meningkat dan memicu arus masuk baru ke pasar kripto.

Namun untuk saat ini, meski Bitcoin naik tipis, pasar masih dalam posisi waspada. Tanpa dukungan likuiditas yang memadai dari stablecoin, peluang untuk terjadinya reli besar bisa jadi akan tertunda.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore