Ilustrasi Bhutan dan aset Bitcoin miliknya. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Negara kecil di pegunungan Himalaya, Bhutan, kembali menarik perhatian dunia kripto setelah kedapatan mentransfer 212 Bitcoin senilai lebih dari USD 23 juta atau sekitar Rp 377 miliar (kurs Rp 16.400 per USD) ke Binance. Aksi ini terjadi hanya beberapa jam setelah harga Bitcoin mencetak rekor baru di atas USD 118.000, pada Kamis (11/7) pagi WIB.
Data ini pertama kali terpantau oleh platform analitik blockchain Arkham, yang mencatat bahwa ini bukan kali pertama Bhutan mengirim BTC ke Binance.
Sepekan sebelumnya, Bhutan juga tercatat mengirim 136 BTC senilai lebih dari Rp 230 miliar ke alamat dompet yang sama. Bahkan pada November 2024, saat harga Bitcoin mendekati USD 100.000, mereka juga mengirim BTC senilai USD 33 juta (Rp 541 miliar).
Meskipun pemerintah Bhutan belum memberikan pernyataan resmi, pola ini memberi kesan bahwa negara tersebut memanfaatkan momen harga puncak untuk menjual sebagian cadangan kripto mereka.
Biasanya, transfer Bitcoin dalam jumlah besar ke bursa sentral seperti Binance sering ditafsirkan sebagai indikasi akan terjadinya penjualan.
Menurut Arkham, Bhutan saat ini masih memiliki sekitar 11.711 BTC, senilai lebih dari USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 19,7 triliun. Angka ini mewakili hampir 40 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.
Selain Bitcoin, Bhutan juga tercatat memiliki 656 Ethereum senilai Rp 29,5 miliar, sebagian di antaranya juga telah dipindahkan ke Binance pada Mei lalu.
Seluruh aset kripto ini dikelola oleh Druk Holding & Investments (DHI), perusahaan investasi milik negara. Melalui DHI, Bhutan diam-diam membangun portofolio kripto besar selama beberapa tahun terakhir, menjadikannya sebagai negara pemilik Bitcoin terbanyak ke-6 di dunia, di bawah Amerika Serikat, Tiongkok, Inggris, Ukraina, dan Korea Utara.
Namun berbeda dengan negara lain yang mendapatkan Bitcoin lewat penyitaan atau penegakan hukum, Bhutan memilih jalur mining. Menurut investigasi onchain, sebagian besar Bitcoin Bhutan diperoleh melalui aktivitas penambangan langsung dengan bantuan kolam mining seperti Ant Pool.
Menariknya, kegiatan ini memanfaatkan keunggulan Bhutan dalam energi bersih. Negara ini memiliki pasokan listrik tenaga air yang melimpah dan murah.
Dengan memanfaatkan kelebihan pasokan listrik tersebut untuk menambang Bitcoin, Bhutan menjadikan energi terbarukan sebagai tulang punggung inovasi digitalnya.
Strategi ini sejalan dengan visi Bhutan untuk membangun ekonomi yang ramah lingkungan namun juga terintegrasi secara digital. Di saat banyak negara masih memperdebatkan dampak lingkungan dari penambangan kripto, Bhutan justru memposisikan diri sebagai contoh “green mining” yang ideal.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
