
Ilustrasi. (istockphoto.com)
JawaPos.com – Kapitalisasi pasar atau market cap sering dijadikan tolok ukur untuk menilai besar kecilnya sebuah aset kripto. Namun banyak pakar mengingatkan, market cap bukan indikator mutlak yang mencerminkan nilai sebenarnya dari sebuah proyek blockchain.
Dilansir dari mc2.fi, market cap dihitung dengan cara sederhana: harga satu token dikalikan jumlah token yang beredar. Semakin tinggi hasilnya, semakin besar pula nilai pasar suatu aset secara teori. Tapi metode ini menyimpan celah logika yang perlu dicermati.
Salah satu kelemahan market cap adalah tidak mempertimbangkan likuiditas. Sebuah koin bisa memiliki harga tinggi dan suplai besar, sehingga market cap-nya melonjak. Namun jika tidak ada cukup volume perdagangan atau minat beli dari pasar, angka tersebut menjadi sekadar nominal tanpa bobot ekonomi yang nyata.
Contoh lainnya, beberapa proyek kripto mencetak miliaran token, namun hanya sebagian kecil yang aktif diperdagangkan. Dalam kasus seperti ini, market cap terlihat tinggi padahal permintaan dan utilitas nyata dari koin tersebut sangat rendah. Akibatnya, data bisa menyesatkan investor pemula.
Selain itu, market cap rentan dimanipulasi oleh pump-and-dump atau skema harga artifisial. Harga token bisa dinaikkan dalam waktu singkat oleh sekelompok pihak tertentu, membuat market cap terlihat melambung, padahal itu tidak mencerminkan adopsi nyata atau keberlanjutan jangka panjang.
Dalam beberapa kasus ekstrem, token baru yang belum memiliki ekosistem kuat bisa memiliki market cap tinggi hanya karena mekanisme distribusi token yang tidak sehat, seperti penyimpanan besar oleh tim pengembang atau investor awal. Ini menimbulkan persepsi yang tidak seimbang di pasar.
Karena itu, market cap sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya acuan dalam menilai aset kripto. Perlu melihat juga volume perdagangan, komunitas pengguna, teknologi, transparansi tim pengembang, dan roadmap proyek.
Investor yang cermat akan menyadari bahwa nilai sejati sebuah proyek tidak hanya diukur dari angka besar di CoinMarketCap, tapi juga dari seberapa besar proyek itu digunakan dalam kehidupan nyata atau ekosistem blockchain. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
