Ilustrasi harga Ethereum yang masih mengelami koreksi atau pelemahan. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Harga dua aset digital terbesar, Bitcoin dan Ethereum, kembali terpukul parah dalam market Rabu (5/11). Dikutip dari Beincrypto, Rabu (5/11), aksi jual besar-besaran di pasar Kripto dalam 24 jam terakhir telah memicu likuidasi senilai lebih dari USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 18,15 triliun (kurs Rp 16.500 per USD).
Ethereum menjadi sorotan utama setelah ambles di bawah level USD 3.400 atau sekitar Rp 56,1 juta. Hal itu membuat Ethereum resmi menjadi aset negatif untuk kinerja sepanjang 2025.
Padahal, pada awal tahun ini, ETH sempat berada di kisaran USD 3.353 (Rp 55,3 juta). Penurunan 7 persen dalam sehari ini menjadi yang paling tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Koreksi ini menghapus seluruh keuntungan holder Ethereum sejak awal tahun dan menandai pergeseran sentimen di pasar altcoin setelah periode stabilitas yang cukup panjang.
Sementara itu, Bitcoin hari ini sempat jatuh ke level terendah intraday di USD 100.721 atau setara Rp 1,66 miliar. Aset digital terbesar dunia itu kini mendekati zona psikologis USD 100.000 (Rp 1,65 miliar), level yang terakhir disentuh pada 23 Juni.
Baik Bitcoin maupun Ethereum kini berada di wilayah jenuh jual (oversold) menurut indikator Relative Strength Index (RSI), menandakan tekanan jual yang ekstrem di pasar.
Gelombang jual serentak ini mengguncang seluruh pasar Kripto. Mayoritas altcoin besar seperti Solana, BNB, dan XRP juga ikut anjlok karena aksi deleverage massal dari para trader yang buru-buru menutup posisi.
Data dari Coinglass mencatat lebih dari 303.000 trader terkena likuidasi dalam 24 jam terakhir. Total posisi senilai USD 1,10 miliar (Rp 18,15 triliun) terpaksa ditutup paksa oleh bursa.
Lebih mencengangkan, dalam waktu hanya satu jam, posisi senilai lebih dari USD 300 juta (Rp 4,95 triliun) hangus, di mana USD 287 juta (Rp 4,74 triliun) merupakan posisi long yang dibuka oleh trader bullish. Ini menunjukkan banyak posisi dengan leverage tinggi yang akhirnya terpaksa ditutup karena harga menembus level support penting.
Meski pasar berantakan, ada satu nama yang justru untung di tengah kekacauan. Menurut data Lookonchain, seorang trader kontroversial bernama James Wynn kini menikmati profit belum terealisasi sebesar USD 66.465 atau sekitar Rp 1,09 miliar.
Analisis on-chain dari Santiment menunjukkan adanya perbedaan perilaku mencolok antara pemegang besar dan kecil Bitcoin. Wallet besar berisi antara 10 hingga 10.000 BTC, yang dikenal sebagai Whale dan Shark, sudah menjual lebih dari 38.366 BTC sejak 12 Oktober. Jumlah itu setara 0,28 persen dari total pasokan Bitcoin.
Dengan harga Bitcoin saat ini, nilai jual aset kripto itu mencapai sekitar USD 3,87 miliar atau Rp 63,9 triliun.
Sebaliknya, trader ritel dengan kepemilikan di bawah 0,01 BTC atau yang disebut shrimps justru menambah posisi hingga 415 BTC, setara kenaikan 0,85 persen dalam periode yang sama.
Menurut Santiment, pola ini sering muncul saat pasar mengalami tekanan. Namun, tanda pemulihan baru akan terlihat bila wahle beralih dari menjual ke membeli.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
