Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 September 2025 | 16.46 WIB

Token ASTER Naik 7.000%, Investor Curiga Dimainkan Enam Dompet Saja

Ilustrasi harga koin Aster yang naik. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi harga koin Aster yang naik. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Dunia kripto kembali dihebohkan oleh kemunculan token baru bernama ASTER. Dalam waktu kurang dari seminggu sejak peluncurannya pada Selasa (17/9), harga token ini melesat hingga 7.000 persen, dari USD 0,02 menjadi USD 2, atau dari sekitar Rp 330 menjadi Rp 33.280 per token.

Namun, di balik lonjakan ini, muncul aroma tak sedap terkait dugaan manipulasi harga dan dominasi pasokan oleh sejumlah kecil dompet kripto.

Token ASTER sendiri merupakan aset kripto dari Aster, sebuah platform decentralized exchange (DEX) yang mengklaim fokus pada perdagangan derivatif perpetual berfrekuensi tinggi.

Meski proyek ini belum memiliki produk jadi, ASTER langsung menarik perhatian karena endorsement diam-diam dari pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ).

Tak lama setelah CZ memberikan sinyal dukungan di akun X (sebelumnya Twitter), beberapa bursa besar seperti Bitget dan Bybit langsung mencatatkan ASTER dalam daftar perdagangan mereka.

Token ini juga tersedia di berbagai jaringan blockchain termasuk BNB Chain, Ethereum, Solana, dan Arbitrum.

Namun, menurut laporan News.Bitcoin, Senin (22/9), lonjakan harga ini tak lepas dari distribusi token yang mencurigakan. Enam dompet saja disebut menguasai lebih dari 96 persen pasokan ASTER, yang saat ini beredar sebanyak 1,65 miliar token. Bahkan ada yang menyebut bahwa Binance memegang 95 persen dari total pasokan, meskipun belum ada konfirmasi resmi.

Kritik tajam datang dari seorang investor kripto dan angel investor bernama Cyclop. Lewat unggahannya di X, ia menyebut bahwa ASTER tidak memiliki produk nyata, namun tetap melambung karena dikendalikan penuh oleh pemilik modal besar.

“Semua orang tahu ini sampah, tapi bagian terburuknya: kamu nggak bisa short. Dan itulah yang bikin ASTER jadi bullish, mereka yang kuasai seluruh pasokan menentukan harga,” katanya.

Menurut Cyclop, kunci dari ASTER bukan pada utility atau kegunaan proyeknya, melainkan pada siapa yang mendukung dan dana besar di belakangnya. “Pasokan yang dikendalikan = bearish. Tapi kalau dikendalikan oleh orang-orang yang dipercaya, bisa jadi bullish,” tambahnya.

Kecurigaan semakin dalam ketika diketahui bahwa ASTER lebih dulu masuk ke pasar perpetual futures, kontrak derivatif yang memungkinkan trader membuka posisi short atau long, sebelum diperdagangkan di pasar spot biasa.

Seorang pengguna X menulis, “Pasar lagi turun semua, satu token naik sendiri. Naluri manusia: pasti mau short. Tapi begitu diseret turun, mereka dilikuidasi dan ASTER malah makin naik.”

Hingga saat ini, ASTER telah terkoreksi ke USD 1,60 atau sekitar Rp 26.624 per token. Meski begitu, kapitalisasi pasarnya masih sangat besar, yaitu sekitar USD 2,64 miliar atau setara Rp 43,9 triliun.

Kasus ASTER menyoroti dinamika baru di dunia kripto: bahwa dalam pasar yang makin spekulatif, reputasi pendiri dan strategi distribusi bisa mengalahkan logika fundamental. Investor kini dihadapkan pada dilema, antara ikut arus hype atau menunggu kehancuran seperti yang terjadi pada banyak proyek serupa.

Satu hal yang pasti, ASTER telah menjadi topik panas di komunitas kripto. Entah akan menjadi cerita sukses jangka panjang atau sekadar pump and dump bermodal sentimen pasar dan dompet raksasa. Waktu yang akan menjawab.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore