Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 September 2025 | 16.17 WIB

Bitcoin vs Emas: Mana yang Lebih Ampuh Jadi Aset Lindung Nilai di 2025?

Ilustrasi emas dan bitcoin yang harganya melonjak. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Perdebatan soal mana aset yang paling aman di tengah ketidakpastian ekonomi terus bergulir. Namun kini, pertanyaan itu makin relevan: apakah emas masih jadi lindung nilai terbaik, atau Bitcoin mulai mengambil alih perannya di 2025?

Menurut André Dragosch, Kepala Riset Eropa di Bitwise Asset Management, jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. “Emas dan Bitcoin justru punya peran berbeda dalam menghadapi risiko yang juga berbeda,” tulisnya dalam unggahan di platform X, dikutip dari Coindesk, Senin (1/9).

Historis menunjukkan bahwa emas adalah aset favorit investor ketika pasar saham mengalami kejatuhan. Selama dekade terakhir, korelasi emas terhadap indeks S&P 500 berada di sekitar nol, bahkan sering negatif saat krisis terjadi. Salah satu contohnya terjadi di tahun 2022, ketika pasar saham Amerika Serikat anjlok 20 persen, harga emas justru naik 5 persen.

Sebaliknya, Bitcoin justru sering gagal menjadi pelindung saat saham runtuh. Pada 2022, BTC jatuh lebih dari 60 persen, mengikuti koreksi besar saham-saham teknologi. Tapi menariknya, kinerja Bitcoin lebih tangguh saat pasar obligasi goyah, seperti ketika yield Treasury melonjak karena kekhawatiran utang Amerika Serikat di 2023.

Artinya, Bitcoin kini cenderung berperan sebagai pelindung portofolio terhadap tekanan dari pasar obligasi, bukan terhadap saham.

Performa 2025: Emas Melesat, Bitcoin Stabil

Hingga akhir Agustus 2025, harga emas tercatat naik lebih dari 30 persen, menurut World Gold Council. Kenaikan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif, perlambatan ekonomi global, serta ketidakpastian politik.

Bitcoin sendiri naik sekitar 16,46 persen di tahun ini, menurut data dari CoinDesk. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun telah turun sekitar 7,33 persen, menurut MarketWatch. Dengan kata lain, Bitcoin tetap bertahan meski pasar obligasi mengalami tekanan besar.

Bandingkan dengan indeks S&P 500 yang “hanya” tumbuh sekitar 10 persen selama 2025. Pola ini menunjukkan bahwa emas naik karena investor panik terhadap saham, sementara Bitcoin justru menjadi penopang saat pasar obligasi terguncang akibat kenaikan suku bunga dan utang pemerintah yang menggunung.

Bitcoin dan Emas Tidak Perlu Dipilih, Tapi Dikombinasikan

“Investor tidak harus memilih satu dan membuang yang lain,” jelas Dragosch. Ia menyarankan agar keduanya dikombinasikan karena saling melengkapi dalam menghadapi risiko yang berbeda. Emas melindungi portofolio dari kejatuhan saham, sedangkan Bitcoin bisa jadi bantalan saat pasar obligasi mulai stres.

Hal ini juga ditegaskan dalam laporan riset Bitwise yang dirilis awal tahun. Di situ disebutkan bahwa kombinasi emas dan Bitcoin terbukti mampu meningkatkan diversifikasi dan memberikan imbal hasil yang lebih baik secara risk-adjusted.

Namun, ada catatan penting. Korelasi Bitcoin dengan saham sempat meningkat di 2025. Hal ini disebabkan masuknya dana institusi ke produk ETF spot Bitcoin yang membuat BTC mulai bergerak seperti aset berisiko lainnya, bukan aset lindung nilai murni. Artinya, kesucian Bitcoin sebagai “safe haven” mungkin mulai tercemar.

Trump Dukung Kripto, Tapi Emas Belum Tersingkir

Dukungan Presiden Donald Trump terhadap cryptocurrency sejak awal tahun ini juga membuat investor mulai melirik Bitcoin lebih serius. Namun, Dragosch tetap memperingatkan agar investor tidak buru-buru meninggalkan emas.

“Emas masih jadi pilihan utama ketika saham ambruk,” tegasnya. Bitcoin mungkin akan semakin relevan, tetapi keduanya mengatasi risiko yang berbeda: saham dan obligasi. Maka dari itu, memiliki keduanya dalam portofolio dinilai lebih bijak.

Kesimpulannya, bukan soal Bitcoin atau emas. Di 2025, keduanya masih relevan—dengan fungsi pelindung yang saling melengkapi. Saat pasar makin sulit ditebak, investor mungkin justru membutuhkan keduanya untuk bisa tidur nyenyak.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore