
Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Ethereum (ETH) tengah menghadapi krisis narasi serius yang membelah komunitasnya menjadi dua kubu besar: mereka yang melihat ETH sebagai sumber pendapatan dari biaya transaksi (fee revenue), dan mereka yang ingin Ethereum diposisikan sebagai store of value (penyimpan nilai) layaknya Bitcoin.
Dikutip dari BeInCrypto, Rabu (30/4), narasi Ethereum sebagai tulang punggung Web3 mulai kehilangan daya magnet. Dengan semakin banyaknya kompetitor seperti Solana dan BNB Chain yang tampil dengan pesan yang lebih jelas, masa depan Ethereum kini dipertanyakan.
Zach Rynes, penghubung komunitas di Chainlink, menyebut Ethereum kehilangan narasi ekonomi yang kohesif. Ia menilai tidak adanya kesepakatan dalam komunitas justru melemahkan keyakinan investor.
“Kita masih punya dua kubu. Yang satu percaya pendapatan adalah cerita utama (ultrasound money atau cerita soal yield), yang lain percaya store of value adalah yang utama (uang yang bisa diprogram),” ujar Rynes.
Perpecahan ini diperparah sejak dominasi pendapatan Ethereum pada 2021 mulai surut. Saat ini, jaringan Layer-2 seperti Arbitrum dan Optimism menyerap sebagian besar gas fee dan maximal extractable value (MEV), yang sebelumnya menjadi sumber pemasukan besar Ethereum.
“Ethereum menyerahkan bagian paling bernilai dari stack ke L2 sambil justru mengoptimalkan bagian paling tidak bernilai,” sindir Rynes.
Di sisi lain, edukator Ethereum dan investor awal Sassal menekankan bahwa nilai ETH tak bisa sekadar dilihat dari pendapatan transaksi. “Kalau ETH hanya dinilai dari pendapatan, nilainya tidak akan pernah besar,” katanya. Ia mengusulkan bahwa ETH harus mengokohkan narasinya sebagai store of value yang kredibel, seperti halnya Bitcoin dengan julukan digital gold.
Masalahnya, Ethereum masih kesulitan menyatukan identitasnya. Tak seperti Bitcoin yang terus konsisten dengan narasi desentralisasi dan keterbatasan suplai, Ethereum dianggap kurang fokus.
Kritikus seperti PlanB, pencipta model Stock-to-Flow, bahkan menyebut ETH sebagai “koin dengan tata kelola teknokratis” yang terlampau terpusat dan berasal dari proses pre-mine.
“Pre-mine itu bendera merah besar. Tapi sepertinya beberapa orang tidak peduli,” ujar PlanB dalam pernyataan sebelumnya.
Konflik internal antar pengembang soal roadmap dan pendekatan Layer-2 turut memperkeruh situasi. Ini menjadi tantangan besar di tengah laju cepat rival-rival seperti Solana yang tampil dengan kecepatan, biaya murah, dan pengalaman pengembang yang lebih ramah.
“Ethereum perlu menjadi aset dengan narasi sendiri—dan sejauh ini belum ada yang menemukan itu,” tegas Rynes.
Saat ini, Ethereum tetap menempati posisi kedua dalam kapitalisasi pasar kripto. Namun, tanpa narasi yang kuat dan terpadu, dominasi ini bisa goyah. Sebab narasi bukan sekadar branding—ia adalah alat pengikat komunitas, arah inovasi, hingga nilai investasi.
Bisakah Ethereum menemukan identitas yang menyatukan keamanan, programabilitas, dan desentralisasi—tanpa terlalu bergantung pada narasi yang sudah usang atau mengejar pendapatan semata?
Jawaban atas pertanyaan ini bisa menjadi penentu: apakah Ethereum akan tetap relevan di masa depan, atau hanya dikenang sebagai proyek ambisius yang gagal memutuskan jati dirinya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
