Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 April 2025 | 22.56 WIB

Ethereum Alami Krisis Identitas, Komunitas Terpecah Antara Pendapatan dan Store of Value

Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Ethereum (ETH) tengah menghadapi krisis narasi serius yang membelah komunitasnya menjadi dua kubu besar: mereka yang melihat ETH sebagai sumber pendapatan dari biaya transaksi (fee revenue), dan mereka yang ingin Ethereum diposisikan sebagai store of value (penyimpan nilai) layaknya Bitcoin.

Dikutip dari BeInCrypto, Rabu (30/4), narasi Ethereum sebagai tulang punggung Web3 mulai kehilangan daya magnet. Dengan semakin banyaknya kompetitor seperti Solana dan BNB Chain yang tampil dengan pesan yang lebih jelas, masa depan Ethereum kini dipertanyakan.

Zach Rynes, penghubung komunitas di Chainlink, menyebut Ethereum kehilangan narasi ekonomi yang kohesif. Ia menilai tidak adanya kesepakatan dalam komunitas justru melemahkan keyakinan investor.

“Kita masih punya dua kubu. Yang satu percaya pendapatan adalah cerita utama (ultrasound money atau cerita soal yield), yang lain percaya store of value adalah yang utama (uang yang bisa diprogram),” ujar Rynes.

Perpecahan ini diperparah sejak dominasi pendapatan Ethereum pada 2021 mulai surut. Saat ini, jaringan Layer-2 seperti Arbitrum dan Optimism menyerap sebagian besar gas fee dan maximal extractable value (MEV), yang sebelumnya menjadi sumber pemasukan besar Ethereum.

“Ethereum menyerahkan bagian paling bernilai dari stack ke L2 sambil justru mengoptimalkan bagian paling tidak bernilai,” sindir Rynes.

Di sisi lain, edukator Ethereum dan investor awal Sassal menekankan bahwa nilai ETH tak bisa sekadar dilihat dari pendapatan transaksi. “Kalau ETH hanya dinilai dari pendapatan, nilainya tidak akan pernah besar,” katanya. Ia mengusulkan bahwa ETH harus mengokohkan narasinya sebagai store of value yang kredibel, seperti halnya Bitcoin dengan julukan digital gold.

Masalahnya, Ethereum masih kesulitan menyatukan identitasnya. Tak seperti Bitcoin yang terus konsisten dengan narasi desentralisasi dan keterbatasan suplai, Ethereum dianggap kurang fokus.

Kritikus seperti PlanB, pencipta model Stock-to-Flow, bahkan menyebut ETH sebagai “koin dengan tata kelola teknokratis” yang terlampau terpusat dan berasal dari proses pre-mine.

“Pre-mine itu bendera merah besar. Tapi sepertinya beberapa orang tidak peduli,” ujar PlanB dalam pernyataan sebelumnya.

Konflik internal antar pengembang soal roadmap dan pendekatan Layer-2 turut memperkeruh situasi. Ini menjadi tantangan besar di tengah laju cepat rival-rival seperti Solana yang tampil dengan kecepatan, biaya murah, dan pengalaman pengembang yang lebih ramah.

“Ethereum perlu menjadi aset dengan narasi sendiri—dan sejauh ini belum ada yang menemukan itu,” tegas Rynes.

Saat ini, Ethereum tetap menempati posisi kedua dalam kapitalisasi pasar kripto. Namun, tanpa narasi yang kuat dan terpadu, dominasi ini bisa goyah. Sebab narasi bukan sekadar branding—ia adalah alat pengikat komunitas, arah inovasi, hingga nilai investasi.

Bisakah Ethereum menemukan identitas yang menyatukan keamanan, programabilitas, dan desentralisasi—tanpa terlalu bergantung pada narasi yang sudah usang atau mengejar pendapatan semata?

Jawaban atas pertanyaan ini bisa menjadi penentu: apakah Ethereum akan tetap relevan di masa depan, atau hanya dikenang sebagai proyek ambisius yang gagal memutuskan jati dirinya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore