
Ilustrasi bitcoin (BTC) yang trennya positif dan berpotensi bullish. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai berpotensi memicu gejolak ekonomi global dan menjadi awal dari perubahan besar dalam tatanan moneter dunia. Namun di balik kekacauan itu, analis dari Bitwise, Jeff Park, melihat peluang besar bagi Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai.
Dikutip dari Cointelegraph, Sabtu (5/4), Park memperkirakan bahwa perang dagang yang dipicu Trump akan memaksa banyak negara menerapkan kebijakan fiskal dan moneter yang inflasioner. Dalam jangka panjang, ini akan menyebabkan pelemahan nilai mata uang fiat di banyak negara dan mendorong investor global mencari alternatif yang lebih stabil—seperti Bitcoin.
“Permintaan terhadap Bitcoin sebagai pelindung nilai dari inflasi akan mendorong harganya naik signifikan dalam jangka panjang,” kata Park. Dalam unggahan di platform X pada 2 Februari lalu, ia menegaskan bahwa beban dari tarif perdagangan akan ditanggung bersama, tetapi negara mitra dagang Amerika akan menerima dampak paling besar karena lemahnya pertumbuhan ekonomi mereka.
Sementara itu, Ray Dalio, ekonom sekaligus manajer hedge fund, menyebut tarif ini bersifat stagflasi—yakni memicu inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi. “Tarif bersifat deflasi bagi negara yang dikenai, dan inflasi bagi negara pengimpor,” ujar Dalio, Rabu (2/4).
Kondisi tersebut, lanjutnya, akan memperparah ketimpangan neraca perdagangan dan utang global, yang pada akhirnya mengguncang sistem moneter internasional. Ia menyimpulkan, “Jika perang dagang benar-benar terjadi secara besar-besaran, dampaknya akan sangat buruk bagi seluruh dunia.”
Senada dengan itu, Nic Puckrin, analis dari Coin Bureau, memprediksi kemungkinan resesi di Amerika Serikat mencapai 40 persen pada 2025 akibat ketidakpastian ekonomi makro yang dipicu kebijakan proteksionis.
Meski demikian, analis investasi Anthony Pompliano melihat bahwa Presiden Trump mungkin sengaja menjatuhkan pasar modal untuk memaksa Federal Reserve memangkas suku bunga, sehingga biaya utang nasional bisa ditekan. Saat ini, imbal hasil obligasi 10 tahun AS telah turun dari 4,66 persen pada Januari menjadi 4 persen.
Dengan bunga yang lebih rendah, investor akan kembali melirik aset berisiko seperti saham dan kripto. “Meski menyakitkan dalam jangka pendek, penurunan suku bunga akan mendorong harga aset naik dalam jangka panjang,” kata Pompliano.
Dengan demikian, di tengah ketegangan global, inflasi, dan kekacauan pasar akibat perang dagang, Bitcoin justru muncul sebagai salah satu solusi paling menjanjikan. “Tidak ada negara yang menang dalam perang dagang global,” kata Park, “tetapi Bitcoin bisa jadi pemenangnya.”

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
