Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 April 2025 | 20.04 WIB

4 Alasan Mengapa Bitcoin Rp 1,3 M Justru Dianggap sedang Diskon oleh Investor Besar

Ilustrasi harga Bitcoin yang sedang turun dan dianggap sebagai diskon. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com) - Image

Ilustrasi harga Bitcoin yang sedang turun dan dianggap sebagai diskon. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)

JawaPos.com – Harga Bitcoin kembali melemah di akhir kuartal pertama 2025. Dari Kamis (28/3) hingga Minggu (31/3), aset kripto terbesar ini terkoreksi 6,8 persen, turun dari USD 87.241 (sekitar Rp 1,43 miliar) ke USD 81.331 (sekitar Rp 1,33 miliar).

Namun, meski harga tak mampu bertahan di atas USD 82.000 (Rp 1,34 miliar), sejumlah metrik on-chain justru menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini diperdagangkan dalam kondisi diskon.

Penurunan harga ini terjadi bersamaan dengan melemahnya pasar saham AS, terutama indeks S&P 500 yang jatuh ke level terendah sejak 14 Maret. Situasi ini diperparah oleh ketegangan global akibat kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Salah satunya, tarif 25 persen terhadap kendaraan impor, yang diumumkan pada Selasa (26/3), membuat para investor waspada akan dampaknya pada pertumbuhan ekonomi.

Namun di tengah ketidakpastian tersebut, ada empat indikator kunci yang menunjukkan bahwa investor tetap percaya diri terhadap masa depan Bitcoin.

1. Hashrate Bitcoin Sentuh Rekor Tertinggi Hashrate, yang mencerminkan kekuatan komputasi jaringan, mencatatkan rekor baru pada 28 Maret dengan menyentuh 856,2 juta terahash per detik, naik dari 798,8 juta pada Februari. Ini menandakan bahwa tidak ada kepanikan dari para penambang, karena mereka tetap mengoperasikan mesin meskipun harga turun.

Data dari Glassnode juga menunjukkan bahwa rata-rata transfer bersih Bitcoin dari penambang ke bursa hanya sekitar 125 BTC per hari, jauh lebih kecil dibanding 450 BTC yang ditambang setiap harinya.

2. Korporasi Tambah Cadangan BTC Perusahaan penambangan Bitcoin MARA Holdings mengajukan prospektus untuk menjual saham senilai USD 2 miliar (Rp 32,8 triliun) demi menambah cadangan Bitcoin mereka. Langkah ini meniru strategi GameStop, yang pada 26 Maret mengumumkan rencana penerbitan utang konversi senilai USD 1,3 miliar (Rp 21,3 triliun), sebagian besar ditujukan untuk investasi pada Bitcoin dan stablecoin.

3. Cadangan BTC di Bursa Menyusut Jumlah Bitcoin yang tersedia di bursa kripto global menurun ke level terendah dalam enam tahun, yakni hanya 2,64 juta BTC per 30 Maret. Penurunan cadangan ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih menyimpan BTC ketimbang menjualnya, sebuah sinyal kuat kepercayaan jangka panjang meskipun harga sedang menurun.

4. ETF Spot BTC Tetap Stabil Antara 27 dan 28 Maret, data menunjukkan hampir tidak ada arus keluar dari ETF spot Bitcoin di AS. Hal ini menandakan bahwa investor institusional masih yakin, dan belum menunjukkan tanda-tanda keluar dari pasar meski harga turun.

Meski dalam seminggu terakhir Bitcoin turun 5,1 persen, kepercayaan investor justru tetap tinggi. Metrik seperti rekor hashrate, menyusutnya cadangan di bursa, serta langkah-langkah institusi besar menambah cadangan BTC memperkuat pandangan bahwa harga Bitcoin saat ini belum mencerminkan potensi jangka panjangnya.

Jadi, bagi sebagian analis, harga Bitcoin di kisaran USD 81.000 atau sekitar Rp 1,33 miliar justru dianggap sebagai harga diskon—bukan sinyal bahaya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore