
Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) dalam diskusi paparan hasil studi XANAP bagi pasien dengan gangguan irama jantung di Indonesia.
JawaPos.com - Gangguan irama jantung atau Fibrilasi Atrium (FA) bisa memicu terjadinya stroke. Maka salah satu pengobatannya adalah dengan terapi obat penggunaan anti koagulan oral antagonis non vitamin K (NOAC) Rivaroxaban yaitu pengencer darah.
FA menyebabkan pembekuan darah di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistemik dapat menyebabkan stroke. Kelumpuhan merupakan bentuk kecacatan yang sering dijumpai pada kasus stroke dengan FA. Di Indonesia, 37 persen pasien FA dengan usia kurang dari 75 tahun, stroke iskemik merupakan gejala pertama yang didapat.
Terkait pentingnya hasil studi XANAP bagi pasien dengan gangguan irama jantung di Indonesia, Dokter Spesialis Saraf dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S(K) menjelaskan dalam penelitian tingkat perdarahan mayor pasien yang diobati dengan Rivaroxaban rendah yaitu 1,5 persen per tahun. Secara khusus, tingkat perdarahan gastrointestinal (GI) dan perdarahan intrakranial (otak) yang fatal relatif rendah yaitu masing-masing 0,5 persen dan 0,7 persen per tahun.
"Tingkat stroke juga rendah pada 1,7 persen per tahun. Hal ini menegaskan kembali keefektifan Rivaroxaban dalam mencegah stroke terkait gangguan irama jantung," katanya dalam diskusi di Jakarta baru-baru ini.
Lebih dari 96 persen pasien yang diobati dengan Rivaroxaban dalam penelitian ini tidak mengalami perdarahan mayor, stroke / emboli sistemik (SE), atau kematian karena penyebab apapun. Penelitian ini melibatkan pasien lanjut usia dengan berbagai tingkat risiko stroke. Serta berbagai penyakit penyerta medis yang signifikan termasuk gagal jantung, hipertensi, diabetes melitus, stroke atau serangan iskemik transien dan infark miokar.
Obat-obatan antikoagulan adalah terapi kuat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati penyakit serius dan kondisi yang berpotensi mengancam nyawa. Sebelum memulai terapi dengan obat-obatan antikoagulan, dokter harus tepat dalam menilai manfaat dan risiko untuk masing-masing kondisi pasien.
"Soal aturan pakai berapa lama obat pengencer harus diminum memang akan jangka panjang. Dalam berbagai studi yaitu 2 tahun. Tetapi kami di dunia medis biasanya merekomendasikan harus diminum seumur hidup apalagi pada pasien dengan FA. Sebab FA ada risiko gangguan pembuluh darah ke otaknya seumur hidup," papar dr. Kurniawan.
Dia juga kembali mengingatkan masyarakat tentang pentingnya Golden Perikd penyakit stroke. Masyarakat harus segera membawa seseorang dengan gejala serangan stroke ke rumah sakit. Sebab tak boleh lebih dari 4,5 jam guna menghindari kecacatan dan kematian akibat rusaknya pembuluh darah di otak yang lebih luas.
"Jika ada orang kena serangan senyum mencong, gangguan bicara, kaki atau tangan lemas sebelah, bawa langsung ke RS. Golden period stroke sangat sempit lebih sempit dari serangan jantung. Jangan sampai orang kena cacat permanen," tukasnya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku SepekanÂ
