Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 Agustus 2022 | 23.31 WIB

Survei: 60 Persen Migor Dipakai Lagi, Ini Dampaknya untuk Kesehatan

Pemerintah mensosialisasi pembelian minyak goreng curah rakyat (MGCR) Rp 14.000 per liter atau Rp 15.500 per kilogram (Kg) melalui aplikasi PeduliLindungi terhitung sejak hari ini (27/6). Setelah sosialisasi dalam dua minggu ke depan, pembelian wajib dila - Image

Pemerintah mensosialisasi pembelian minyak goreng curah rakyat (MGCR) Rp 14.000 per liter atau Rp 15.500 per kilogram (Kg) melalui aplikasi PeduliLindungi terhitung sejak hari ini (27/6). Setelah sosialisasi dalam dua minggu ke depan, pembelian wajib dila

JawaPos.com - Tidak jarang rumah tangga dan bisnis menggunakan kembali minyak goreng yang sudah dipakai. Minyak goreng bekas pakai dikenal dengan istilah minyak jelantah. Masyarakat terkadang tetap menggunakannya meski mengetahui risiko kesehatannya.

Dalam penelitian disebutkan, minyak sisa dari penggorengan telah terbukti menyebabkan beberapa kondisi kesehatan yang serius termasuk kanker, penyakit jantung, dan kerusakan organ. Hal itu karena minyak yang sudah dididihkan mengandung lemak jenuh.

Dalam survei di India seperti laporan Indian Times, 60 persen minyak goreng digunakan kembali. Sebuah studi baru menemukan bahwa sekitar 60 persen dari minyak goreng bekas yang dihasilkan di India kembali ke aliran makanan.

Studi tersebut dilakukan oleh Observer Research Foundation, Koan Advisory Group dan Neste. Studi menemukan penggunaan kembali minyak goreng di kota besar.

Minyak bekas mengandung radikal bebas, molekul yang dapat merusak sel dan menyebabkan peningkatan risiko kanker, serta mempengaruhi kualitas makanan. Titik asap adalah suhu di mana minyak rusak dan mulai berasap. Suhu yang lebih panas dapat menyebabkan makanan lebih rusak.

Fachrul dari j-lantah PT Sejahtera Karna Menggoreng mengatakan masyarakat Indonesia yang suka sekali makan makanan yang digoreng, karena lebih praktis, murah dan enak. Minyak goreng yang telah dikonsumsi masyarakat kemudian menjadi limbah berupa minyak jelantah (sering juga disebut UCO = Used Cooking Oil).

"Maka dari itu penting mengumpulkan minyak jelantah, terutama yang dihasilkan oleh rumah tangga, agar tidak lagi mencemari lingkungan dan air tanah, serta mencegah atau mengurangi terjadinya banjir. Selain itu, dapat mengurangi penggunaan minyak goreng curah yang dapat membahayakan kesehatan, yang juga bersumber dari minyak jelantah," kata Fachrul kepada wartawan baru-baru ini.

Bisa Untuk Biodisel

Hasil penelitian menyebutkan minyak jelantah sebagian dihasilkan oleh pemakaian minyak goreng di industri, seperti restoran, warung, kafe, hotel, pabrik (kerupuk, kentang goreng, kacang goreng, keripik) yang jumlahnya sekitar 9 persen tetapi sebagian besar minyak jelantah justru dihasilkan oleh rumah tangga (terutama di daerah perkotaan), yang jumlahnya mencapai sekitar 91 persen seperti laporan Katadata Insight Center. Sebagian penelitian menyebutkan bahwa 1 liter minyak jelantah dapat mencemari 1.000 liter 1.000.000 liter air tanah, padahal minyak jelantah tersebut jika dikumpulkan sebenarnya dapat dimanfaatkan, yaitu salah satunya untuk menjadi bahan baku biodiesel.

Masing-masing rumah tangga hingga restoran disarankan menyumbang minimal 1 liter jelantah, sehingga diharapkan sebagian besar minyak jelantah yang dihasilkan oleh rumah tangga tidak lagi dibuang begitu saja. Manfaat minyak jelantah dapat dikumpulkan untuk menjadi bahan baku biodiesel, dan memberikan penghasilan tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore