Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 November 2026 | 14.14 WIB

Anak Telat Bicara? 12 Aktivitas Sederhana yang Disarankan Terapis dan Orang Tua

ILUSTRASI IBU DAN ANAK LATIHAN DI RUMAH: Bermain kartu gambar bersama ibu bisa jadi salah satu cara mendorong anak yang terlambat bicara. (Magnific) - Image

ILUSTRASI IBU DAN ANAK LATIHAN DI RUMAH: Bermain kartu gambar bersama ibu bisa jadi salah satu cara mendorong anak yang terlambat bicara. (Magnific)

JawaPos.com - Balita usia 3 tahun yang belum lancar bicara sering membuat orang tua cemas dam khawatir terutama ibu. Padahal, sejumlah terapis wicara dan orang tua yang pernah melewatinya sepakat bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk liputan. Kuncinya ada pada permainan sederhana yang diselipkan dalam rutinitas harian.

Pediatric Communication Solutions, klinik terapi wicara anak di Oklahoma, Amerika Serikat, menyebut orang tua sebagai fasilitator utama perkembangan komunikasi anak. Menurut klinik itu, latihan yang menyatu dengan rutinitas seperti makan dan mandi lebih efektif daripada tes formal. Mereka menganjurkan latihan 10 sampai 15 menit per hari.

Dari Afrika Selatan, terapis wicara Laura Cramb menegaskan bahwa semua ide itu hanya pelengkap di rumah dan tidak menggantikan terapi profesional.

Cerita juga datang dari Curtise Lewis, seorang ayah yang menuliskan pengalamannya di Medium pada 22 Februari 2026. Anaknya, Ezra, mengalami keterlambatan bicara saat keluarga mereka tinggal di Meksiko dan terbiasa mendengar lebih dari satu bahasa. Lewis menegaskan bahwa mendengar bahasa kedua tidak menyebabkan keterlambatan bicara. Kini Ezra berusia tujuh tahun dan kemampuan bicaranya disebut jauh membaik, meski latihan masih berlanjut.

Prinsip dasar: ikuti anak, jangan memaksa

Lewis memegang beberapa prinsip. Ikuti minat anak, sejajarkan wajah agar anak bisa melihat mulut dan mata orang tua, lalu ucapkan frasa pendek satu sampai tiga kata seperti "mobil jalan" atau "buka, tolong". Setelah itu, tunggu tiga sampai lima detik agar anak sempat merespons.

Kalau anak tidak menirukan, ulangi saja contohnya. Menurut Lewis, tekanan justru membuat anak menutup diri. Lima menit di sana-sini, katanya, lebih baik daripada satu sesi 30 menit.

12 aktivitas yang bisa dicoba di rumah

  1. Matikan televisi di latar belakang. Laura Cramb menyebut suara TV yang menyala terus justru mengganggu. Ia merujuk temuan di jurnal JAMA Pediatrics yang mengaitkan seringnya anak menonton televisi dengan keterlambatan kata bermakna.
  2. Ceritakan apa yang sedang dilakukan. Teknik self-talk dan parallel talk berarti ibu menyebut tindakannya sendiri, lalu tindakan anak. Misalnya, "Mama cuci sendok merah" dan "Adik ambil balok biru".
  3. Main gelembung sabun dengan jeda. Tiup satu atau dua gelembung, lalu diam sambil memegang tongkatnya. Tiup lagi saat anak menatap, menunjuk, atau bersuara. Contoh kata yang diucapkan: "lagi", "pecah".
  4. Luncurkan mobil dengan hitungan. Letakkan mobil mainan di atas bantal atau buku miring, lalu ucapkan "siap… siap…" dan berhenti. Lepaskan setelah anak bereaksi dengan "ayo!".
  5. Susun menara balok bergantian. Ucapkan "giliran Mama", lalu "giliran Adik". Pujilah setiap usaha menirukan, sekecil apa pun, lalu robohkan menara bersama-sama sambil berseru "bum!".
  6. Beri pilihan, bukan sekadar ya atau tidak. Tawarkan dua pilihan setinggi mata anak, misalnya "biskuit atau pisang?" Pilihan ini bisa juga lewat permainan masak-masakan. Tunggu anak menunjuk atau bersuara sebelum memberikannya.
  7. Letakkan barang favorit di luar jangkauan. Terapis menyebut ini strategic sabotage. Mainan favorit, atau stiker dalam wadah tertutup, membuat anak terdorong meminta tolong. Ibu lalu mencontohkan kata "tolong" atau "buka".
  8. Baca buku sambil menunjuk dan berhenti sejenak. Tunjuk gambar, sebutkan namanya, lalu beri jeda. Ulangi halaman favorit, karena pengulangan membantu anak mengingat kata.
  9. Bernyanyi dengan gerakan. Lagu anak dengan gerakan tangan melatih irama dan bunyi. Berhentilah sebelum gerakan kunci, misalnya "tangan ke atas", agar anak mengisi bagiannya.
  10. Main boneka dan hewan mainan. Anak sering lebih berani bicara lewat boneka. Pilih dua hewan saja, tirukan satu bunyi dan gerakan, lalu tunggu respons anak.
  11. Latih otot mulut dan main cermin. Tiup bola kapas lewat sedotan, atau minum dengan sedotan keriting dari berbagai tekstur, seperti air, susu, dan saus apel. Duduk di depan cermin dan tirukan wajah lucu atau bunyi seperti "mmm" dan "ba" agar anak melihat gerak bibirnya.
  12. Kenalkan isyarat dan "magnet permintaan". Isyarat untuk "tolong", "mama", dan "papa" bisa mengurangi frustrasi anak. Tempel magnet bergambar makanan favorit di kulkas agar anak membawanya saat ingin sesuatu, dan pastikan magnet itu tidak mudah tertelan.

Aktivitas lain yang disarankan antara lain petak umpet dengan mainan favorit, mandi dengan tiga kata ulang seperti "tuang", "cipratan", dan "buka", serta kartu bergambar. Laura Cramb juga menganjurkan sekitar 40 menit bermain bersama setiap hari dengan kata-kata pendek.

Kemajuan tak selalu berupa kata baru

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore