Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Agustus 2026 | 23.01 WIB

Gara-gara Karhutla, ISPA Naik hingga 165.747 Kasus di Kalbar

Kabut asap dampak karhutla menyelimuti sekolah dasar di Kabupaten Kotawaringin timur, Kalimantan Tengah. (Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com) - Image

Kabut asap dampak karhutla menyelimuti sekolah dasar di Kabupaten Kotawaringin timur, Kalimantan Tengah. (Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)

JawaPos.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang memicu kabut asap berdampak terhadap kesehatan masyarakat di sejumlah provinsi, terutama di Kalimantan Barat. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di provinsi tersebut mencapai 165.747 kasus sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Agus Jamaludin mengatakan, lonjakan kasus ISPA menjadi salah satu dampak nyata dari penurunan kualitas udara akibat Karhutla. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain yang terdampak kabut asap.

Di Kalimantan Selatan, tercatat 18.423 kasus ISPA. Sementara itu, Kalimantan Tengah melaporkan lebih dari 3.000 kasus hanya dalam periode 10 hingga 16 Agustus 2026.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengatakan, risiko Karhutla semakin tinggi seiring puncak musim kemarau yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berlangsung pada Juli hingga September 2026.

Kabut asap akibat Karhutla membawa sejumlah polutan berbahaya, termasuk partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun. Polutan tersebut dapat masuk ke sistem pernapasan dan berpengaruh terhadap kesehatan.

“Anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko karena paru-paru dan sistem kognitif mereka masih dalam tahap perkembangan,” kata Then, Jumat (28/8).

Selain anak-anak, kelompok lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid juga menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan ekstra.

Pada lansia, paparan polutan dalam konsentrasi tinggi dapat memperburuk Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan memicu gangguan kardiovaskular. Paparan asap juga dapat meningkatkan tekanan darah serta menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus akibat kualitas udara yang memburuk, Kemenkes telah memobilisasi 321 tenaga kesehatan tambahan untuk memperkuat pelayanan di puskesmas dan rumah sakit rujukan di wilayah terdampak.

Kemenkes juga mendistribusikan berbagai kebutuhan medis, termasuk 262.000 masker medis dan N95, 119 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, serta 4.900 set alat pelindung diri (APD).

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore