Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Agustus 2026 | 23.13 WIB

Dokter Ungkap Alasan Pasien TB Tetap Harus Minum Obat meski Gejala Sudah Berhenti

Ilustrasi TBC. (Boldsky) - Image

Ilustrasi TBC. (Boldsky)

JawaPos.com - Pasien tuberkulosis (TB) tetap harus menyelesaikan pengobatan hingga tuntas meski gejala seperti batuk, demam, atau batuk darah sudah menghilang. Menghentikan obat sebelum waktunya justru dapat membuat bakteri penyebab TB menjadi kebal terhadap pengobatan.

Menurut Dokter spesialis paru Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), banyak pasien TB keliru menganggap dirinya sudah sembuh setelah menjalani pengobatan selama sekitar dua bulan karena kondisi tubuh mulai membaik. Padahal, saat itu masih ada bakteri TB yang belum sepenuhnya mati.

"Berobat sampai selesai pada pasien-pasien TB itu penting untuk kesembuhan. Kalau pengobatan tidak selesai, biasanya karena masyarakat merasa setelah dua bulan pengobatan batuknya hilang, tidak ada batuk darah, nafsu makan naik, tidak ada demam, berat badan naik, mereka berhenti karena merasa sembuh," katanya kepada wartawan, Senin (3/8).

Padahal, ia menegaskan bahwa keputusan menghentikan pengobatan TB secara sepihak sangat berbahaya. Sebab, bakteri yang masih bertahan dapat berkembang menjadi lebih kuat dan resisten terhadap obat.

"Ini bahaya sebetulnya. Kuman-kuman itu belum mati semua, masih ada sebagian yang tersisa. Karena obatnya berhenti, lama-kelamaan akan berubah menjadi kuman yang lebih kuat atau menjadi kuman yang kebal atau resisten," tuturnya

Prof. Erlina menjelaskan, faktor yang membuat pasien tidak menyelesaikan terapi TB salah satunya adalah rasa bosan karena harus mengonsumsi obat selama enam bulan.

Faktor lainnya adalah kurangnya pemahaman mengenai pentingnya menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Menurutnya, edukasi yang baik kepada pasien menjadi kunci agar mereka tidak menghentikan terapi di tengah jalan.

Di sisi lain, efek samping obat juga kerap membuat pasien memilih berhenti berobat. Obat TB yang terdiri atas beberapa jenis dapat menimbulkan keluhan seperti mual, muntah, hingga gatal pada sebagian pasien.

Karena itu, ia meminta pasien tidak menghentikan obat apabila mengalami efek samping, melainkan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.

"Kalau nanti merasa gatal atau merasa mual, jangan berhenti, tetapi datang ke fasilitas kesehatan untuk diberikan cara mengatasinya dan bila perlu diberikan obat-obatan," pungkas Prof. Erlina.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore