Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Juli 2026 | 19.11 WIB

Infeksi Nyamuk DBD Sering pada Pagi dan Sore Hari, Penularannya Sepanjang Tahun Bukan Musiman

ilustrasi nyamuk. (Freepik) - Image

ilustrasi nyamuk. (Freepik)

JawaPos.com – Mayoritas infeksi nyamuk demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi pada pagi dan sore hari mesti jadi pengingat untuk orang tua tidak hanya menyiapkan perlengkapan sekolah saat tahun ajaran baru dimulai, tetapi juga memastikan anak terlindungi dari demam berdarah dengue (DBD).

Dokter sekaligus kreator konten, dr. Ikhsanuddin Qothi mengatakan bahwa risiko gigitan nyamuk DBD dapat mengikuti anak selama beraktivitas di berbagai tempat, termasuk sekolah. Sehingga, upaya perlindungan tidak cukup dilakukan di rumah.

"Nyamuk Aedes aegypti aktif terutama pada pagi dan sore hari. Ini berarti risiko gigitan dapat mengikuti anak selama beraktivitas, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar," ujar dr. Ikhsan, Jumat (31/7).

Ia menjelaskan, masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya mengintai saat musim hujan. Padahal, penyakit tersebut dapat terjadi sepanjang tahun karena tempat penampungan air yang tidak dibersihkan tetap bisa menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk.

"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat," katanya.

Menurut dr. Ikhsan, risiko penularan juga sering kali tidak disadari. Studi di Asia Tenggara dan Amerika Latin memperkirakan sekitar 45 persen anggota rumah tangga pasien DBD juga terinfeksi, sementara hampir tiga perempat kasus yang terdeteksi tidak menunjukkan gejala.

Karena itu, saat anak kembali ke sekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, pencegahan harus dilakukan secara konsisten baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Sekolah diharapkan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk, memantau jentik, serta menerapkan gerakan 3M Plus.

Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibanding kelompok usia lainnya. Pada 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0–14 tahun, dengan 41 persen berasal dari kelompok usia 5–14 tahun.

dr. Ikhsan juga mengingatkan bahwa anak yang pernah terinfeksi DBD belum tentu kebal terhadap seluruh jenis virus dengue. Seseorang yang pernah terinfeksi satu serotipe masih dapat tertular serotipe lainnya dan berisiko mengalami dengue berat.

"Hingga saat ini belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan dengue. Deteksi dini dan akses terhadap penanganan medis yang tepat berperan penting dalam menurunkan risiko dengue berat," tegasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore