
Ilustrasi kanker ovarium (ANTARA/Shutterstock/mi_viri)
JawaPos.com – Kanker ovarium menjadi salah satu penyakit ginekologi paling mematikan di dunia. Lebih dari 70 persen pasien terdiagnosis pada stadium lanjut karena gejala awal yang sering tidak khas seperti nyeri atau pembengkakan perut.
Biasanya, penanganan kanker ovarium dilakukan dengan kemoterapi. Diungkapkan Dr. dr. Fara Vitantri, SpOG, Subsp.Onk, Dokter Spesialis Onkologi Ginekologi, lebih dari 80 persen pasien sebenarnya merespons baik terhadap kemoterapi awal dan mengalami remisi. Namun sebagian besar pada akhirnya akan kambuh dan mengalami resistensi terhadap platinum.
Sehingga, perlu ada strategi mengatasi permasalahan resisten platinum ini. “Kemoterapi berulang banyak berdampak negatif, karena memengaruhi kualitas hidup akibat efek samping yang berat,” ujar dr. Fara dalam forum Siloam Oncology Summit 2026 baru-baru ini.
Baca Juga:Hasil Indonesia Open 2026: Rachel/Febi Menangi Perang Saudara, Leo/Daniel Dibungkam Wakil Taiwan
Kanker ovarium dikategorikan sebagai kanker yang kompleks dalam penanganannya. Bukan cuma karena kondisi pasien yang datang dalam stadium lanjut, tetapi setelah pengobatan kemoterapi kanker akan mengalami kekambuhan kembali dalam durasi sekitar tiga tahun.
Standar terapi kanker ovarium saat ini adalah kemoterapi dan operasi, namun terdapat beberapa pilihan lain seperti imunoterapi dan juga operasi HIPEC. Terapi baru disesuaikan dengan kondisi medis tiap pasien dan juga melalui evaluasi pemeriksaan genetik.
Terkait HIPEC, Profesor Melissa Teo Ching Ching, MBBS, FRCS, FAMS, MPH, MMed, seorang ahli bedah onkologi di Singapura, mengungkapkan, pasien kanker ovarium sebenarnya memiliki pilihan pengobatan dengan HIPEC (Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy) yang lebih efektif dan terarah.
“HIPEC sebagai opsi treatment pada kanker ovarium stadium lanjut, terutama pada kasus resisten platinum, tapi memang harus disertai dengan operasi. Pilihan pengobatan ini juga bergantung pada SDM, dokternya, dan juga fasilitasnya,” ungkap Prof. Melissa.
Diungkapkan Prof. Melissa, prosedur HIPEC bekerja dengan mengalirkan dosis tinggi obat kemoterapi ke dalam rongga perut, terutama untuk mengobati kanker yang telah menyebar ke luar organ asalnya.
Nantinya, sebelum prosedur HIPEC, dokter akan melakukan cytoreductive surgery untuk melihat dan mengangkat seluruh jaringan kanker atau jaringan yang terinfeksi penyakit yang tampak secara langsung.
“Terapi ini bisa dapat meningkatkan usia harapan hidup yang lebih panjang, daripada kalau pasien hanya mendapatkan kemoterapi saja,” sambungnya.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
