Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 Juni 2026 | 23.08 WIB

Mengenal Pengobatan HIPEC pada Kanker Ovarium Stadium Lanjut

Ilustrasi kanker ovarium (ANTARA/Shutterstock/mi_viri) - Image

Ilustrasi kanker ovarium (ANTARA/Shutterstock/mi_viri)

JawaPos.com – Kanker ovarium menjadi salah satu penyakit ginekologi paling mematikan di dunia. Lebih dari 70 persen pasien terdiagnosis pada stadium lanjut karena gejala awal yang sering tidak khas seperti nyeri atau pembengkakan perut. 

Biasanya, penanganan kanker ovarium dilakukan dengan kemoterapi. Diungkapkan Dr. dr. Fara Vitantri, SpOG, Subsp.Onk, Dokter Spesialis Onkologi Ginekologi, lebih dari 80 persen pasien sebenarnya merespons baik terhadap kemoterapi awal dan mengalami remisi. Namun sebagian besar pada akhirnya akan kambuh dan mengalami resistensi terhadap platinum.

Sehingga, perlu ada strategi mengatasi permasalahan resisten platinum ini. “Kemoterapi berulang  banyak berdampak negatif, karena memengaruhi kualitas hidup akibat efek samping yang berat,” ujar dr. Fara dalam forum Siloam Oncology Summit 2026 baru-baru ini.

Kanker ovarium dikategorikan sebagai kanker yang kompleks dalam penanganannya. Bukan cuma karena kondisi pasien yang datang dalam stadium lanjut, tetapi setelah pengobatan kemoterapi kanker akan mengalami kekambuhan kembali dalam durasi sekitar tiga tahun.

Standar terapi kanker ovarium saat ini adalah kemoterapi dan operasi, namun terdapat beberapa pilihan lain seperti imunoterapi dan juga operasi HIPEC. Terapi baru disesuaikan dengan kondisi medis tiap pasien dan juga melalui evaluasi pemeriksaan genetik. 

Terkait HIPEC, Profesor Melissa Teo Ching Ching, MBBS, FRCS, FAMS, MPH, MMed, seorang ahli bedah onkologi di Singapura, mengungkapkan, pasien kanker ovarium sebenarnya memiliki pilihan pengobatan dengan HIPEC (Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy) yang lebih efektif dan terarah.

“HIPEC sebagai opsi treatment pada kanker ovarium stadium lanjut, terutama pada kasus resisten platinum, tapi memang harus disertai dengan operasi. Pilihan pengobatan ini juga bergantung pada SDM, dokternya, dan juga fasilitasnya,” ungkap Prof. Melissa.

Diungkapkan Prof. Melissa, prosedur HIPEC bekerja dengan mengalirkan dosis tinggi obat kemoterapi ke dalam rongga perut, terutama untuk mengobati kanker yang telah menyebar ke luar organ asalnya.  

Nantinya, sebelum prosedur HIPEC, dokter akan melakukan cytoreductive surgery untuk melihat dan mengangkat seluruh jaringan kanker atau jaringan yang terinfeksi penyakit yang tampak secara langsung. 

“Terapi ini bisa dapat meningkatkan usia harapan hidup yang lebih panjang, daripada kalau pasien hanya mendapatkan kemoterapi saja,” sambungnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore