
dr. Errawan Wiradisuria, Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Konsultan. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Obesitas kini semakin dipahami sebagai penyakit kronis, bukan sekadar akibat pola hidup tidak sehat. Kondisi ini berisiko memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Errawan Wiradisuria, Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Konsultan, dalam sesi edukasi bertema “Mengenal Bedah Bariatrik–Metabolik untuk Obesitas” yang diselenggarakan RS Bintaro di Jakarta pada Rabu (20/5).
Menurut dr. Errawan, sejumlah organisasi kesehatan internasional seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah menetapkan obesitas sebagai penyakit kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang. Namun, di Indonesia, obesitas masih kerap dianggap hanya sebagai persoalan gaya hidup semata.
“Bedah bariatrik–metabolik merupakan prosedur pembedahan yang bertujuan membantu penurunan berat badan sekaligus memperbaiki gangguan metabolisme tubuh, seperti diabetes dan hipertensi,” kata dr. Errawan.
Ia menjelaskan, dibandingkan pendekatan konservatif seperti diet, olahraga, maupun terapi obat, prosedur bedah bariatrik dinilai mampu memberikan hasil penurunan berat badan yang lebih efektif dan berkelanjutan pada pasien obesitas berat.
Tindakan bariatrik juga disebut memiliki sejumlah manfaat penting, antara lain membantu menurunkan berat badan secara signifikan dalam jangka panjang, meningkatkan kualitas hidup, mengurangi risiko penyakit penyerta, serta membantu memperbaiki kondisi seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.
Operasi ini umumnya direkomendasikan bagi pasien dengan indeks massa tubuh (BMI) di atas 35, atau BMI lebih dari 30 yang disertai penyakit penyerta berisiko tinggi akibat obesitas. Selain memenuhi kriteria medis, pasien juga harus siap menjalani perubahan pola hidup sehat dan kontrol kesehatan secara rutin setelah tindakan dilakukan.
Dalam edukasi tersebut, dr. Errawan turut memaparkan dampak obesitas terhadap kesehatan, kriteria pasien yang dapat menjalani bedah bariatrik, berbagai teknik operasi modern, hingga pola makan dan gaya hidup yang perlu diterapkan setelah operasi. Ia juga menjelaskan manfaat tindakan bariatrik dalam membantu mengendalikan diabetes, hipertensi, dan sindrom metabolik.
Saat ini, terdapat beberapa teknik bedah bariatrik yang berkembang, seperti Sleeve Gastrectomy (SG), Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB), Biliopancreatic Diversion with Duodenal Switch (BPD-DS), serta Sleeve Gastrectomy with Proximal Jejunal Bypass (PJB-S).

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
