
Ilustrasi anak menonton TV tanpa pengawasan orang tua/sumber: (freepik/rawpixel)
JawaPos.com-Kepala Divisi Psikiatri Anak dan Remaja FKUI-RSCM Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ, Subsp. AR (K) mengatakan bahwa anak yang mengakses video secara daring (online) tanpa pendampingan orang tua berisiko menumpulkan kemampuan otak yang masih berkembang.
"Kita tahu bahwa yang bisa membantu kita adalah lobus frontal, yaitu otak bagian depan dan pada anak itu dalam proses perkembangannya, kematangannya, paling lambat sekitar 25 tahun usianya," kata Tjhin Wiguna dalam acara Hari Keamanan Berinternet 2026 di Jakarta, Selasa.
Tjhin menekankan tontonan yang diakses tanpa henti akan membuat anak tidak ingin berhenti menonton dan menatap gadget dalam waktu yang lama.
Otak yang terbiasa hanya menatap layar dalam jangka waktu yang lama kemampuannya akan semakin menumpul. Hal ini berkorelasi erat dengan munculnya perilaku hilangnya kontrol diri.
"Kalau anak bertahan nonton terus menerus maka otak bagian itu akan semakin lama semakin tumpul. Akibatnya, kontrol emosi, kontrol perilakunya jadi terganggu," ujar Tjhin.
Anak-anak dengan kontrol diri yang terganggu biasanya akan teriak jika orang tua mengambil gadget, marah dan menghentikan tontonannya sampai menangis meraung-raung.
Ia menyayangkan pada situasi tersebut banyak orang tua di Indonesia yang belum tegas untuk menegakkan aturan, dan justru kembali memberikan gadget dengan dalih agar anak menjadi tenang.
Sedangkan di satu sisi tontonan anak pada masa kini semakin mengkhawatirkan. Misalnya, kartun yang diselipkan adegan kekerasan atau mengarah pada hal-hal yang berbau pornografi.
Dia melanjutkan pendampingan yang diberikan oleh orang tua tidak hanya sebagai media pengawasan, tetapi juga membatasi anak masuk dalam ruang digital yang lebih luas dan tidak bertanggung jawab.
Tjhin mencontohkan pada satu kasus yang ditemukan di rumah sakit, anak usia SD sudah mengetahui bahwa tautan atau konten yang dibatasi orang tua melalui fitur dalam gadgetnya, kini bisa diakses dengan menggunakan VPN.
Menurutnya, pendampingan orang tua juga menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah anak mengalami kecanduan bermain gadget dan berselancar di internet..
"Kalau sampai anaknya tidak mau lepas itu sudah sampai ke adiksi, sampai ketergantungan itu sudah paling berbahaya, karena kalau sudah ketergantungan dia sakit sebenarnya, kalau dia sakit dia harus diobati, dan akan jadi beban pemerintah juga, jadi saya rasa dari aspek saya adalah yang paling saya khawatirkan itu sebenarnya," kata dia. (*)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
