
Pakar Teknologi Pangan dari Swiss Greman University, Dr. Ir. Abdullah Muzi Marpaung, MP. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Pakar Teknologi Pangan dari Swiss German University, Abdullah Muzi Marpaung, menyoroti mi instan sebagai salah satu pangan darurat bagi korban bencana.
Ia menilai mi instan bukan pilihan ideal sebagai makanan darurat bagi korban bencana, terutama dalam kondisi akses air bersih yang terbatas seperti di Sumatera.
Menurut dia, situasi kebencanaan seperti banjir yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh kerap menyulitkan penyintas untuk mendapatkan air layak, sehingga makanan yang masih harus dimasak seperti mi instan menjadi kurang relevan.
“Dalam kondisi bencana, salah satu tantangan terbesarnya adalah sulitnya akses air bersih. Karena itu, makanan yang harus dimasak terlebih dahulu menjadi kurang cocok. Yang paling dibutuhkan adalah makanan siap santap,” kata Abdullah Muzi Marpaung dalam podcast Banyak Tanya di Jawa Pos TV, dikutip Rabu (17/12).
Ia menjelaskan, kebutuhan pangan saat bencana memiliki kriteria khusus. Selain harus aman dikonsumsi, makanan darurat juga perlu memiliki kandungan kalori yang tinggi agar bisa langsung memberikan energi, serta mudah dikonsumsi tanpa proses rumit seperti memasak atau persiapan panjang.
Sayangnya, pilihan makanan dengan karakteristik tersebut belum banyak disosialisasikan secara luas kepada masyarakat.
Muzi mencontohkan kurma sebagai salah satu alternatif pangan darurat yang lebih sesuai. Menurutnya, kurma relatif mudah didistribusikan karena tidak memerlukan pengolahan tambahan, dan mampu memberikan energi yang cukup bagi tubuh.
Selain kurma, ada pula pilihan lain seperti selai kacang yang dikenal memiliki kandungan energi tinggi dan praktis untuk dikonsumsi dalam kondisi darurat.
Selama ini, mi instan kerap menjadi pilihan utama dalam penyaluran bantuan karena dianggap praktis dan tahan lama. Namun, dari sudut pandang teknologi pangan, Muzi menilai mi instan hanya menjadi “jawaban paling mudah”, bukan solusi terbaik.
“Mi instan memang awet dan mudah dikirim, tapi tetap membutuhkan air dan proses memasak. Dalam kondisi bencana tertentu, ini justru menjadi kendala,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan risiko jika mi instan dikonsumsi terus-menerus dalam jangka waktu lama. Secara prinsip, pola makan yang baik harus memenuhi tiga aspek utama, yakni bervariasi, bergizi seimbang, dan porsinya sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Sementara itu, mi instan didominasi karbohidrat dari pati, dengan kandungan serat dan protein yang sangat minim.
“Kalau hanya mengandalkan satu jenis pangan seperti mi instan, apalagi dalam waktu lama, tentu kurang baik. Kandungan gizinya tidak seimbang,” katanya.
Karena itu, ia mendorong adanya alternatif pangan darurat yang lebih beragam dan bernilai gizi lebih baik, terutama untuk para penyintas bencana.
Menurut Muzi, penentuan jenis bantuan pangan seharusnya mempertimbangkan kondisi lapangan secara menyeluruh.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
