
Ilustrasi bayi yang lahir dengan jari tambahan. (Hello Sehat)
JawaPos.com - Kamu mungkin pernah menemui seseorang yang memiliki jari tangan atau kaki lebih dari lima, atau bahkan mendengar cerita tentang bayi yang lahir dengan kondisi serupa. Kondisi ini seringkali menarik perhatian dan menimbulkan rasa ingin tahu tentang apa sebenarnya yang terjadi. Meski terlihat tidak biasa, kelainan ini ternyata lebih umum dijumpai dibandingkan yang kamu bayangkan dan merupakan salah satu kelainan bawaan yang cukup sering terjadi pada bayi baru lahir.
Kondisi ini dikenal dengan polidaktili, yaitu kondisi bawaan di mana seseorang lahir dengan jumlah jari tangan atau kaki yang lebih banyak daripada kebanyakan orang lain. Kondisi ini bisa terjadi baik pada satu atau kedua tangan, maupun satu atau kedua kaki. Jari tambahan yang muncul bisa berupa jari yang berkembang sempurna dengan tulang dan sendi atau hanya berupa tonjolan jaringan lunak kecil. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa, polidaktili uga termasuk salah satu kelainan bawaan yang paling sering ditemukan pada bayi yang baru lahir.
Namun, ternyata penyebab pasti dari polidaktili hingga kini belum sepenuhnya terungkap. Meski begitu, Halodoc menyoroti beberapa faktor yang mungkin memegang peranan dalam kemunculan kondisi ini. Polidaktili sendiri biasanya cenderung menurun dalam silsilah keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan atau mutasi pada gen-gen tertentu, khususnya gen GLI3, telah diidentifikasi sebagai salah satu pemicu terjadinya polidaktili. Selain faktor genetik ini, dalam beberapa kasus, faktor lingkungan yang dialami seorang ibu selama masa kehamilan juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan kondisi ini pada janinnya.
Kamu juga mungkin pernah bertanya-tanya soal jari tambahan yang bisa muncul di lokasi yang berbeda-beda setiap orangnya. Ada yang memiliki jari tambahan di samping ibu jari, ada pula yang di sisi kelingking, bahkan ada yang muncul di tengah-tengah jari lainnya. Tidak hanya itu, bentuk jari tambahan juga bervariasi, ada yang hanya berupa gumpalan daging kecil tanpa tulang di dalamnya, ada pula yang memiliki struktur tulang, sendi, bahkan kuku yang sempurna.
Perbedaan-perbedaan di atas sebenarnya membentuk klasifikasi tersendiri dalam dunia medis. Karena itu, Cleveland Clinic menyoroti bahwa polidaktili terbagi menjadi tiga kategori utama berdasarkan lokasi kemunculan jari tambahan tersebut.
1. Polidaktili Preaksial
Jenis ini ditandai dengan kemunculan jari tambahan pada sisi ibu jari tangan atau jari kaki besar. Dalam istilah medis, kondisi jari tangan tambahan di area ibu jari disebut sebagai polidaktili radial, sementara jari kaki tambahan di area jari kaki besar disebut polidaktili tibial. Jenis ini relatif lebih jarang dibandingkan jenis polidaktili lainnya dan seringkali memerlukan evaluasi medis yang lebih mendetail.
2. Polidaktili Pusat
Polidaktili jenis ini terjadi ketika jari tambahan muncul di bagian tengah, yaitu di antara jari telunjuk, jari tengah, atau jari manis pada tangan. Untuk kaki, jari tambahan bisa muncul pada jari-jari di tengah, tidak termasuk jari kaki besar atau jari kelingking. Jenis sentral ini merupakan tipe yang paling jarang ditemukan di antara ketiga kategori polidaktili. Penanganan untuk jenis ini seringkali lebih kompleks karena lokasinya yang berada di tengah-tengah jari lainnya.
3. Polidaktili Postaksial
Jenis polidaktili yang paling umum terjadi, ditandai dengan adanya jari tambahan di sisi kelingking tangan atau kaki. Dalam terminologi medis, jari kelingking tambahan pada tangan disebut polidaktili ulnar, sedangkan pada kaki disebut polidaktili fibular. Jenis ini paling sering ditemukan pada bayi dan biasanya memiliki tingkat kesulitan penanganan yang lebih rendah dibandingkan jenis lainnya.
Walaupun umumnya kondisi ini tidak berbahaya, tetap ada penangan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya, terutama jika keberadaan jari tambahan tersebut sudah mengganggu kegiatan sehari-hari. Untuk penanganannya sendiri akan bergantung pada jenis polidaktili yang dialami masing-masing individu.
Namun, umumnya tetap melibatkan prosedur pengangkatan jari tambahan tersebut. Berikut ini merupakan beberapa metode penanganan yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi spesifik pasien.
1. Surgical Ligature (Ligasi Bedah)
Metode ini melibatkan pengikatan tali atau pita yang sangat ketat di pangkal jari tambahan untuk menghentikan aliran darah ke area tersebut. Setelah satu hingga dua minggu, jari tambahan akan lepas dengan sendirinya karena tidak mendapatkan suplai darah. Metode ini umumnya digunakan untuk jari tambahan yang hanya terdiri dari jaringan lunak tanpa struktur tulang atau sendi yang kompleks. Prosedur ini relatif sederhana dan minim risiko untuk kasus-kasus tertentu.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
