
Ilustrasi nyamuk penyebab chikungunya. (Freepik)
JawaPos.com - Indonesia dikenal sebagai negara tropis dengan iklim yang hangat dan lembab, yang mana ini menjadikannya sebagai habitat ideal bagi berbagai jenis nyamuk pembawa penyakit. Kondisi cuaca yang mendukung perkembangbiakan nyamuk membuat masyarakat rentan terhadap berbagai penyakit yang bisa ditularkan. Salah satu penyakit yang diperhatikan lebih lagi adalah chikungunya, terutama ketika musim hujan telah datang.
Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya (CHIKV) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini juga merupakan penular utama demam berdarah dengue (DBD) sehingga sering menimbulkan kebingungan dalam membedakan keduanya. Walaupun begitu, risiko kematian akibat penyakit ini relatif rendah.
Dilansir dari World Health Organization (WHO), gejala penyakit chikungunya biasanya muncul 4–8 hari dengan kisaran 2–12 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi. Penyakit ini ditandai dengan demam yang tiba-tiba dan sering kali disertai dengan nyeri sendi yang parah, di mana ini akan melemahkan sendi-sendi dan dapat berlangsung selama beberapa hari. Namun, nyeri sendi ini dapat juga berkepanjangan hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun dalam beberapa kasus. Selain itu, adapun gejala umum lainnya meliputi pembengkakan sendi, nyeri otot, sakit kepala, mual, kelelahan, dan munculnya ruam pada kulit.
Sayangnya gejala chikungunya sering kali disalahpahami sebagai demam berdarah dengue (DBD) karena keduanya ditularkan oleh nyamuk yang sama dan memiliki beberapa gejala serupa. Namun, tetap ada perbedaan utama yang terletak pada gejala nyeri sendi, yang mana akan terasa lebih dominan pada chikungunya, sementara DBD lebih ditandai dengan penurunan trombosit dan risiko perdarahan. Selain itu pada chikungunya, demam biasanya berlangsung 2-3 hari dan jarang menyebabkan komplikasi fatal, sedangkan DBD dapat menyebabkan komplikasi serius seperti dengue shock syndrome.
Walaupun saat ini belum tersedia vaksin atau obat antivirus khusus untuk mengobati chikungunya, yang membuat penanganan medis biasanya difokuskan pada pengobatan simptomatik untuk meredakan gejala yang muncul. Hello Sehat menyori beberapa langkah pengobatan yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu proses penyembuhan penyakit chikungunya.
1. Penggunaan Obat
Kamu dapat mengonsumsi obat paracetamol, ibuprofen, atau naproxen, untuk mengurangi demam dan nyeri sendi yang terjadi. Dokter biasanya akan meresepkan obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) untuk mengurangi peradangan dan rasa nyeri pada sendi. Namun, dosis obat harus sesuai dengan anjuran dokter untuk menghindari efek samping yang tidak diinginkan.
2. Istirahat yang Cukup
Ketika kamu sakit, maka sistem imun membutuhkan energi optimal untuk melawan infeksi virus chikungunya, sehingga penderita sangat disarankan untuk beristirahat total di tempat tidur. Selain itu, kamu sebaiknya menghindari aktivitas fisik yang berat karena dapat memperburuk kondisi tubuh dan memperlambat proses penyembuhan secara keseluruhan. Pastikan kamu mendapat tidur yang berkualitas selama 8-10 jam per hari akan membantu tubuh fokus melawan virus dan mempercepat pemulihan.
3. Perbanyak Asupan Cairan
Demam yang tinggi akibat chikungunya dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi yang berbahaya. Karena itu sebaiknya kamu mengonsumsi air putih minimal 8-10 gelas per hari, jus buah segar, atau larutan elektrolit untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Dehidrasi dapat memperburuk gejala chikungunya seperti sakit kepala, kelelahan, dan memperlambat proses penyembuhan secara keseluruhan. Namun, hindari konsumsi alkohol dan kafein berlebihan karena dapat memperparah kondisi dehidrasi dan mengganggu proses pemulihan tubuh.
4. Kompres Dingin Untuk Nyeri Sendi
Kamu juga dapat menggunakan kompres dingin selama 15–20 menit beberapa kali sehari untuk hasil yang optimal dalam mengurangi nyeri dan peradangan pada sendi yang terkena. Kamu dapat menggunakan handuk yang dibasahi air es atau kantong es yang dibungkus kain untuk menghindari kontak langsung dengan kulit yang dapat menyebabkan frostbite. Suhu dingin dari kompres ini akan menyempitkan pembuluh darah dan mengurangi aliran darah ke area yang meradang sehingga efektif mengurangi rasa sakit. Meskipun demam akibat chikungunya biasanya hilang dalam waktu satu minggu, nyeri sendi kemungkinan bisa berlangsung selama berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan.
5. Minum Rebusan Jahe dan Kunyit
Kedua rempah tradisional ini memiliki sifat antiinflamasi alami yang dapat membantu mengurangi gejala radang sendi atau rheumatoid arthritis pada penderita chikungunya. Kunyit mengandung senyawa curcumin yang telah terbukti secara ilmiah dapat mengurangi peradangan dan pembengkakan pada sendi yang terkena. Sementara itu, jahe memiliki kandungan gingerol yang efektif meredakan nyeri dan dapat dikonsumsi dalam bentuk teh hangat atau rebusan segar. Namun, penggunaan obat herbal ini sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada interaksi dengan obat-obatan lain yang sedang dikonsumsi penderita.

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
