
Headphone dan ponsel (dok. freepik)
JawaPos.com - Penggunaan perangkat Bluetooth seperti headphone dan earphone nirkabel kini semakin populer karena praktis dan nyaman. Meski begitu, masih ada kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai potensi bahaya radiasi yang dipancarkan perangkat ini terhadap kesehatan. Sebagian orang bahkan menghubungkannya dengan risiko kanker, gangguan otak, hingga masalah kesuburan. Namun, apa sebenarnya fakta ilmiah di balik isu ini?
Perangkat Bluetooth memang memancarkan radiasi elektromagnetik atau electromagnetic radiation (EMR). Radiasi ini masuk ke dalam kategori non-ionizing, yaitu radiasi dengan frekuensi rendah yang umumnya dianggap tidak berbahaya bagi manusia.
Menurut Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat, paparan radiasi non-ionizing dalam kadar rendah sehari-hari “secara umum dianggap aman.”
Hal yang sama juga ditegaskan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bahwa risiko biasanya hanya muncul pada mereka yang bekerja langsung dengan sumber radiasi besar dalam jangka panjang, bukan dari perangkat kecil seperti Bluetooth.
Apa Itu Radiasi Elektromagnetik?
Dilansir melalui Medical News Today, radiasi elektromagnetik terbagi dua, ionizing dan non-ionizing. Radiasi ionizing, seperti sinar-X dan sinar gamma, berenergi tinggi dan mampu merusak DNA, sehingga jelas berbahaya jika terpapar tanpa perlindungan.
Sebaliknya, radiasi non-ionizing, yang berasal dari ponsel, WiFi, microwave, hingga headset Bluetooth, jauh lebih rendah energinya sehingga tidak cukup kuat untuk merusak sel tubuh manusia.
Meski begitu, beberapa penelitian masih menimbulkan perdebatan. Misalnya, ada studi pada hewan yang menemukan paparan tinggi radiasi non-ionizing dapat memicu pertumbuhan tumor.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa kondisi percobaan tersebut berbeda jauh dengan penggunaan manusia sehari-hari. Pada penelitian itu, hewan terpapar radiasi dalam intensitas dan durasi jauh lebih tinggi dibandingkan radiasi yang kita terima dari ponsel atau Bluetooth.
Selain itu, riset epidemiologi yang mengaitkan radiasi ponsel dengan kanker otak juga belum menunjukkan bukti konsisten, karena angka kasus kanker otak tidak meningkat meski penggunaan ponsel melonjak drastis dalam beberapa dekade terakhir.
Apakah Bluetooth Aman?
Hal yang sering menjadi pertanyaan adalah apakah radiasi Bluetooth lebih berbahaya dibanding ponsel. Jawabannya, justru sebaliknya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa perangkat Bluetooth menghasilkan radiasi sekitar 10 hingga 400 kali lebih rendah daripada ponsel.
Jadi, jika radiasi dari ponsel saja belum terbukti meningkatkan risiko kanker, maka radiasi dari Bluetooth kemungkinan besar jauh lebih aman.
Meski demikian, kekhawatiran publik tetap muncul. Pada tahun 2015, lebih dari 200 ilmuwan dari berbagai negara mengajukan permohonan kepada WHO dan PBB agar memperketat regulasi terkait paparan radiasi non-ionizing.

Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
