Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Agustus 2025 | 21.11 WIB

RS Manfaatkan AI untuk Saingi Layanan Medis di Singapura

Ilustrasi pasien sedang menjalani pemeriksaan dengan MRI 3T SIGNA™ Architect di National Hospital. (National Hospital for Jawa Pos) - Image

Ilustrasi pasien sedang menjalani pemeriksaan dengan MRI 3T SIGNA™ Architect di National Hospital. (National Hospital for Jawa Pos)

JawaPos.com - Peralatan canggih berbasis Artificial Intelligence (AI) digunakan di beberapa RS di Surabaya barat. Bukan hanya untuk pemeriksaan membantu diagnosis pasien. Tapi juga difungsikan dalam tindakan operasi. Alat canggih itu digunakan untuk menyaingi layanan RS yang ada di Singapura.

National Hospital Pakai MRI 3T SIGNA™ Architect Tanpa Radiasi

Direktur National Hospital Surabaya adalah dr. Hendera Henderi, Sp.OG, MHPM mengatakan,  MRI 3T SIGNA™ Architect sudah dilengkapi kecerdasan buatan (AI). Teknologi tersebut membuat proses akuisisi gambar 12 kali lebih cepat dibanding MRI standar. Jika sebelumnya pemeriksaan butuh waktu 1–2 jam, kini cukup kurang dari 30 menit. AI juga membuat proses diagnosis lebih akurat karena hasil gambar langsung teroptimasi sebelum dibaca oleh dokter spesialis.

Deteksi Kekuatan Otot Jantung Pasca Serangan

MRI ini mampu membaca kondisi otot jantung secara detail, termasuk mendeteksi area yang rusak atau mati setelah serangan jantung. “Bisa terlihat luasnya kerusakan, fungsi pompa jantung, sampai pembuluh darah koroner,” kata dr. Hendera. Hal ini memungkinkan dokter menentukan langkah terapi yang lebih tepat pasca infark miokard.

Pemetaan Otak dan Stroke Lebih Detail

Untuk kasus stroke, MRI ini bisa membedakan antara pendarahan atau sumbatan darah di otak secara sangat presisi. Dengan itu, keputusan tindakan medis bisa langsung dilakukan—baik pemberian obat, kateterisasi, atau tindakan bedah. Teknologi ini mendukung program Code S di National Hospital untuk deteksi stroke dini.

Liver Keras Bisa Dideteksi Sebelum jadi Kanker

Pemeriksaan liver dengan MRI ini bisa mendeteksi tingkat kekerasan hati melalui metode MR elastografi. Ini penting untuk pasien dengan kondisi seperti hepatitis, fatty liver, atau liver akibat konsumsi alkohol. “Kalau sudah mengeras, itu berisiko jadi kanker. MRI ini bisa digunakan untuk skrining dini tanpa radiasi,” jelasnya.

Bisa Screening Tanpa Radiasi dan Ulang Berkala

MRI ini menggunakan medan magnet 10 ribu kali lebih kuat dari medan magnet bumi. Karena tidak menggunakan radiasi seperti CT scan atau X-ray, pasien bisa diperiksa berulang dalam jangka pendek tanpa risiko kesehatan. Ini ideal untuk pasien dengan kondisi kronis yang butuh monitoring berkala seperti kanker atau gangguan otot.

Bisa Lihat Fungsi Otot, Bukan Cuma Struktur

Keunggulan lain adalah kemampuan melihat fungsi jaringan lunak, seperti otot. Bukan hanya mendeteksi bentuk atau penyumbatan, tapi bagaimana kinerja motorik otot secara fungsional. Ini berguna untuk diagnosis gangguan saraf atau muskular dengan tingkat presisi tinggi.

Saingi Singapura, Cegah Pasien ke Luar Negeri

Menurut dr. Hendera, MRI canggih ini juga bagian dari komitmen National Hospital untuk mengurangi angka pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri. “Ratusan triliun devisa kita hilang setiap tahun. Dengan alat seperti ini, kualitas layanan kita bisa bersaing,” ujarnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore