Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 Juli 2025 | 07.13 WIB

Biar Harga Lebih Murah dan Tidak Bergantung Impor, RSCM  Kembangkan Plasma di Dalam Negeri

Direktur Utama RSCM, dr. Supriyanto Sp.B, FINACS, M.Kes (tengah) bersama Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan, Dita Novianti dan jajaran RSCM. (Istimewa)

 
JawaPos.com - Unit Transfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta tengah mengembangkan pembuatan plasma di dalam negeri. Langkah ini sebagai upaya mengurangi ketergantungan produk impor.
 
Langkah ini ini juga berkaca dari banyaknya darah yang terbuang setelah donor dilakukan. Darah ini tidak terpakai karena beberapa pasien hanya membutuhkan beberapa zat saja dari darah tersebut. Misalnya, pasien hanya membutuhkan sel darah merah atau trombosit karena sedang pemulihan penyakit tertentu.
 
Oleh karena itu, sisa dari donor tersebut akan terbuang. Adapun jumlah yang terbuang bisa sampai 200 liter per bulan.
 
“Sekarang RSCM sudah mengantongi sertifikat untuk mampu memproduksi yang tadinya (darah) dibuang itu menjadi bahan setengah ‘matang’ gitu kan, untuk diolah lebih lanjut menjadi obat,” kata Direktur Utama RSCM, Supriyanto di Jakarta, Rabu (23/7).
 
Meski begitu, RSCM bekerja sama dengan pihak lainnya dalam menjalankan program ini. Perusahaan swasta yang digandeng adalah SK PLasma.
 
 
Melalui langkah ini diharapkan bisa memperkuat rantai pasok bahan baku plasma dalam negeri. Terlebih, selama ini Indonesia sangat bergantung kepada impor.
 
Selain itu, pengolaan plasma di dalam negeri juga akan membuat kemandirian pembuatan obat dalam negeri meningkat. Dengan begitu, harga plasma pun bisa ditekan.
 
“Dengan begitu, karena diproduksi di dalam negeri, harganya akan menjadi lebih turun. Apalagi yang biasanya dibuang sekarang menjadi bahan baku itu dan tentunya mempunyai nilai ekonomis juga,” imbuhnya.
 
Supriyanto menuturkan, RSCM berkomitmen mendukung arah kebijakan nasional menuju kemandirian produk kesehatan.
 
Sementara, Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, Renan Sukmawan menambahkan, salah satu pengembangan plasma ini bisa menghasilkan zat albumin. Zat ini dibutuhkan pasien dengan golongan sakit berat.
 
“Kita itu menerima pasien-pasien yang berat, dan sulit dari seluruh Indonesia dan salah satu kebutuhannya yang paling banyak itu albumin. Orang dengan sakit liver dan gizi buruk, pasien dalam kondisi berat dan berkaitan dengan gizi. Albumin itu sangat penting di dalam badan, karena sebelumnya harus impor dan sebagainya,” tandasnya.
 
 
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore