Second puberty pada orang dewasa yang dialami mulai usia 20-an hingga 40-an. (Freepik)
JawaPos.com - Sebagian besar orang mengenal masa pubertas sebagai periode perubahan besar yang terjadi pada remaja, yang diwarnai lonjakan hormon, pertumbuhan fisik pesat, dan gejolak emosi.
Namun, tahukah kamu bahwa perubahan serupa bisa kembali terjadi di usia dewasa? Fenomena ini dikenal dengan istilah ‘second puberty’.
Melansir laman Healthline, Second puberty bukan istilah medis, melainkan istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan fase perubahan hormonal dan fisik yang dialami oleh orang dewasa, biasanya dimulai dari usia pertengahan 20-an hingga menjelang usia 40-an.
Meskipun tidak seintens pubertas pertama, banyak orang melaporkan perubahan pada tubuh, kulit, berat badan, bahkan suasana hati yang terasa mirip seperti masa remaja dulu.
Mengutip laman Teen Vogue, menurut pakar dermatologi dan endokrinologi, second puberty merupakan respons alami tubuh terhadap perubahan hormon yang berlangsung perlahan tapi berdampak nyata.
Istilah ini diadopsi karena kemiripan gejala dengan pubertas remaja, seperti jerawat, kenaikan berat badan, hingga perubahan mood dan fisik.
Meski berubah secara bertahap dan tidak dramatis seperti pubertas remaja, efeknya cukup signifikan dan memerlukan pemahaman serta adaptasi medis dan psikologis.
Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi selama fase ini, apa penyebabnya, serta bagaimana cara menghadapinya dengan tepat.
Selama fase ini, tubuh mengalami pergeseran hormonal, seperti penurunan estrogen dan peningkatan fluktuasi androgen. Perubahan ini dapat memengaruhi bentuk tubuh, kulit, dan organ reproduksi.
Pada wanita, setelah pubertas pertama, fase ini dapat terjadi di usia 20-an hingga menjelang menopause, salah satu fase perimenopause, atau dikenal sebagai versi ‘second puberty’, dengan gejala hot flashes dan perubahan siklus menstruasi.
Sedangkan pada pria, pergeseran dimulai di usia 20-an saat puncak hormon, berlanjut ke penurunan testosteron di usia 30-an, atau dikenal sebagai andropause atau menopause pria.
Fluktuasi hormon hormon dan estrogen menurunkan neurotransmitter, yang memicu perubahan suasana hati, kecemasan, serta depresi, mirip roller coaster emosi saat remaja.
Fenomena ini juga menyebabkan brain fog, yakni gangguan ingatan dan konsentrasi, yang umum terjadi saat memasuki fase perimenopause.
Strategi Menghadapi ‘Second Puberty’

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
