Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 April 2025 | 22.04 WIB

Sering Disepelekan Padahal Berbahaya, Kenali Sebab dan Gejala Penyakit Irritable Bowel Syndrome

IBS, penyakit yang gangguan pencernaan yang menyerang usus. (ASCRS) - Image

IBS, penyakit yang gangguan pencernaan yang menyerang usus. (ASCRS)

JawaPos.com - Banyak orang menyepelekan penyakit yang terjadi di sekitar area perut. Padahal, sakit di area perut bisa menjadi sinyal alami dari tubuh mengenai adanya gangguan atau penyakit lainnya yang mungkin muncul dan lebih berbahaya.

Seperti misalnya Irritable Bowel Syndrome atau IBS, adalah gangguan pencernaan yang sering kali dianggap sepele karena tidak menyebabkan kerusakan permanen pada usus. Namun, bagi penderitanya, IBS dapat menjadi kondisi yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Gangguan ini memang tidak bersifat menular atau berbahaya, tetapi Dr. dr. I Ketut Mariadi, Sp.PD-KGEH, FACG, FINASM, yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi di RS Siloam menjelaskan, penyakit IBS dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya akibat ketidaknyamanan yang ditimbulkannya. 

IBS sendiri merupakan gangguan fungsional pada sistem pencernaan yang memengaruhi usus besar. Kondisi ini menyebabkan perubahan pola buang air besar yang tidak teratur, disertai kram perut, kembung, diare, atau konstipasi. 

IBS bersifat kronis, sehingga dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Meskipun demikian, IBS tidak menyebabkan kerusakan struktural pada usus seperti penyakit radang usus (IBD) atau penyakit celiac. Meskipun IBS sering dianggap sebagai penyakit yang kurang serius, namun penanganan yang tepat sangat diperlukan agar gejalanya tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. 

"IBS bukanlah penyakit yang mengancam nyawa, tetapi dapat sangat mengganggu kehidupan sehari-hari jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diagnosis yang benar dan edukasi pasien sangat penting," kata dr. Ketut melalui keterangannya.

Dirinya menambahkan, gangguan pencernaan dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu penyakit fungsional dan penyakit organik yang mana, penyakit fungsional adalah gangguan pada fungsi organ tanpa adanya kelainan struktural yang terlihat pada pemeriksaan medis.

IBS termasuk dalam kategori ini, di mana usus mengalami gangguan dalam fungsi normalnya tanpa adanya peradangan atau kerusakan jaringan yang dapat dideteksi melalui tes pencitraan. 

Penyakit organik adalah gangguan yang disebabkan oleh kelainan struktural atau inflamasi, seperti penyakit radang usus (IBD), kanker usus, atau penyakit celiac. Penyakit ini biasanya dapat terdeteksi melalui pemeriksaan seperti endoskopi atau biopsi.

“IBS termasuk dalam kategori penyakit fungsional, di mana tidak ditemukan kelainan fisik pada usus, tetapi fungsinya terganggu. Oleh karena itu, pendekatan pengobatannya lebih berfokus pada manajemen gejala dan perubahan gaya hidup,” dr. Ketut menambahkan.

Mengenai gejala IBS sendiri bisa bervariasi pada setiap individu, tetapi umumnya meliputi sakit atau kram perut yang mereda setelah buang air besar, perubahan frekuensi dan konsistensi tinja, perut kembung, serta produksi gas berlebih.

Untuk memudahkan mengingat, gejala IBS bisa disingkat dengan ABCD, Abdominal pain (sakit perut), Bloated (kembung), Constipation (konstipasi), Diarrhea (diare). Berdasarkan pola buang air besar, IBS dikategorikan ke dalam empat subtipe.

Pertama tipe Konstipasi, didominasi oleh konstipasi (lebih 25% gejala) dengan tinja keras dan sulit dikeluarkan. Lalu tipe Diare, gejala utama berupa diare (lebih 25% gejala) dengan tinja encer dan frekuensi buang air besar yang lebih sering.

Kemudian tipe Campuran, ditandai dengan pola buang air besar yang bergantian antara diare dan konstipasi (masing-masing > 25%) dan terakhir tipe yang tidak terklasifikasikan: gejala diare dan konstipasi kurang dari 25%.

Ada beberapa faktor yang dapat memicu atau memperburuk gejala IBS, seperti faktor makanan. Makanan tertentu dapat menjadi pemicu utama IBS, terutama yang mengandung tinggi lemak, makanan pedas, produk susu bagi yang intoleran laktosa, serta makanan tinggi FODMAP (Fermentable Oligosaccharides, Disaccharides, Monosaccharides, and Polyols). 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore