Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 April 2025 | 17.36 WIB

Bahaya Mengerikan Makan Gorengan Bagi Kesehatan: Bikin Gagal Diet, Kena Diabetes, hingga Sakit Jantung

Ilustrasi gorengan yang membahayakan kesehatan. (freepik) - Image

Ilustrasi gorengan yang membahayakan kesehatan. (freepik)

JawaPos.com - Makanan yang digoreng memang selalu menggoda selera. Rasanya gurih, teksturnya renyah, dan aromanya menggugah. Namun di balik kelezatan tersebut, terdapat risiko besar terhadap kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Terutama bagi mereka yang sering mengonsumsi gorengan dari minyak jelantah, seperti di warung pinggir jalan atau makanan cepat saji.

Gorengan mengandung kalori tinggi, lemak trans, serta zat berbahaya seperti akrilamida yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Mulai dari obesitas, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung. Fakta-fakta ini membuat gorengan termasuk dalam daftar makanan yang paling sering dicari informasi bahayanya oleh masyarakat yang peduli akan pola hidup sehat.

Dilansir dari laman Healthline, Selasa (15/04), berikut adalah bahaya konsumsi gorengan secara berlebihan:

1. Mengandung Kalori dan Lemak Lebih Tinggi dari Makanan Biasa

Dibanding metode memasak lain seperti kukus atau panggang, menggoreng membuat makanan lebih tinggi kalori. Saat makanan digoreng, air di dalamnya menguap dan digantikan oleh minyak. Selain itu, tepung atau adonan pelapis yang digunakan juga menyumbang banyak kalori.

Sebagai contoh, kentang panggang 138 gram hanya mengandung 128 kalori, sementara kentang goreng dengan berat yang sama bisa mencapai 431 kalori. Begitu pula dengan ikan panggang yang hanya mengandung 105 kalori, tapi jika digoreng jumlahnya melonjak jadi 200 kalori.

2. Tinggi Lemak Trans yang Berbahaya

Lemak trans terbentuk saat minyak mengalami proses pemanasan tinggi. Lemak jenis ini sulit diurai oleh tubuh dan dapat meningkatkan risiko penyakit serius. Penelitian menunjukkan bahwa lemak trans berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, dan obesitas.

Minyak goreng yang sering digunakan ulang di restoran cepat saji terbukti meningkatkan kandungan lemak trans. Bahkan, minyak nabati seperti minyak kedelai, jagung, dan kanola bisa membentuk lemak trans dalam jumlah tinggi saat dipanaskan.

3. Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis

Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan kuat antara konsumsi makanan yang digoreng dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan obesitas. Misalnya, orang yang makan gorengan lebih dari dua kali seminggu memiliki risiko dua kali lipat terkena resistensi insulin dibandingkan yang jarang makan gorengan.

Sebuah studi selama empat tahun juga menemukan bahwa konsumsi ikan goreng dua kali seminggu meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Sementara mereka yang rutin makan buah dan sayur memiliki risiko jauh lebih rendah.

4. Mengandung Zat Akrilamida Pemicu Kanker

Akrilamida adalah zat kimia berbahaya yang terbentuk saat makanan kaya pati seperti kentang digoreng dalam suhu tinggi. Studi pada hewan menunjukkan bahwa akrilamida bisa menyebabkan berbagai jenis kanker. Walau bukti pada manusia belum cukup kuat, konsumsi dalam jangka panjang tetap perlu diwaspadai.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore