
Ilustrasi media sosial. (Freepik)
JawaPos.com – Kesulitan mempertahankan fokus, kecenderungan impulsif, serta kebutuhan stimulasi tinggi merupakan ciri khas ADHD. Media sosial memanfaatkan karakteristik ini, sehingga dampaknya terhadap otak menjadi lebih kompleks.
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan kondisi neurologis yang mempengaruhi cara otak mengolah perhatian, kontrol impuls, dan regulasi emosi. Aktivitas pada bagian otak yang bertanggung jawab atas fokus dan pengambilan keputusan bekerja secara berbeda dibandingkan dengan individu tanpa ADHD.
Memahami bagaimana media sosial mempengaruhi otak penderita ADHD membantu dalam mengelola penggunaannya secara lebih bijak. Konten berbasis algoritma dapat memperburuk kesulitan fokus dan meningkatkan perilaku impulsif.
Berikut adalah 7 dampak media sosial terhadap otak penderita ADHD dann cara mengatasinya, dilansir dari laman Simplypsychology oleh JawaPos.com, Minggu (23/3):
1. Gangguan Konstan
Notifikasi dan tampilan visual dari media sosial dapat terus-menerus mengalihkan perhatian. Bagi individu dengan ADHD, gangguan ini membuat konsentrasi semakin sulit.
Otak terbiasa mencari rangsangan instan dibandingkan mempertahankan fokus dalam waktu lama. Ketika terlalu banyak distraksi, tugas yang memerlukan konsistensi menjadi sulit diselesaikan.
Sistem penghargaan otak lebih condong ke rangsangan cepat daripada penyelesaian tugas. Akibatnya, media sosial memperkuat pola perilaku sulit fokus.
2. Pembagian Perhatian
Stimulasi dari media sosial menurunkan kemampuan otak untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu panjang. Ketika aplikasi tetap aktif di latar belakang, fokus terhadap tugas utama menjadi lebih rentan terpecah.
Pengguna dengan ADHD sering berpindah antara satu tugas ke tugas lain tanpa menyelesaikannya. Hal ini dapat mempengaruhi produktivitas secara keseluruhan.
Paparan konstan terhadap informasi singkat mengurangi kemampuan mempertahankan perhatian dalam durasi panjang. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memperburuk kesulitan dalam memahami informasi kompleks.
3. Peningkatan Impulsivitas
Media sosial menawarkan berbagai bentuk rangsangan yang mendorong perilaku impulsif. Ketika otak menerima umpan balik instan dari setiap interaksi digital, keinginan untuk terus menggeser dan mengklik menjadi semakin sulit dikendalikan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
