Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Maret 2025 | 04.49 WIB

Mengenal Hipotermia dan Acute Mountain Sickness, Ancaman Serius di Ketinggian

Jumlah pendaki Gunung Semeru mencapai 600 orang per hari menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2018. - Image

Jumlah pendaki Gunung Semeru mencapai 600 orang per hari menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2018.

EKSPLORASI alam merupakan pengalaman menakjubkan, tetapi juga memiliki risiko yang mesti diantisipasi. Menurut dokter sekaligus pendaki Reyner Valiant Tumbelaka, bahaya dalam pendakian terbagi menjadi dua, yaitu subjektif dan objektif.

”Bahaya subjektif bisa dicegah, antara lain pemilihan outfit, keterampilan penggunaan alat, dan perencanaan yang matang. Sementara bahaya objektif meliputi faktor yang tidak bisa kita kendalikan, yakni cuaca ekstrem, badai, atau longsor,” jelas dr Reyner Valiant Tumbelaka MKed Klin SpOT.

Pendaki harus mewaspadai dua kondisi medis yang kerap terjadi. Yakni, hipotermia dan acute mountain sickness (AMS). Keduanya bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius akibat kehilangan panas yang lebih cepat dibandingkan kemampuan tubuh menghasilkan panas. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi organ vital, termasuk jantung dan sistem saraf.

”Pada saat hipotermia, suhu inti tubuh turun selama pemanasan ulang. Pembuluh darah di telapak tangan dan kaki melebar, menyebabkan pengiriman darah dingin ke inti tubuh dan berisiko menurunkan suhu tubuh lebih cepat,” jelas dr Karina Aprilia Wirajaya.

Hipotermia juga mengubah keseimbangan pH darah menjadi lebih asam, yang bisa menyebabkan gangguan irama jantung hingga kematian. Karena itu, metode pemanasan harus dilakukan dengan benar.

”Jika ingin menghangatkan tubuh, lakukan di daerah inti seperti ketiak atau leher menggunakan heat pack. Hindari menggosok tangan atau kaki karena bisa memperburuk kondisi,” tambah head of MCU National Hospital itu.

Gejala hipotermia bervariasi, mulai ringan hingga berat. Pada tahap awal, penderita menggigil, kelelahan, dan kebingungan. Jika dibiarkan, dapat berlanjut ke tekanan darah rendah, hilangnya refleks menggigil, hingga henti jantung.

Dapat Dialami Siapa Saja, Termasuk Pendaki Profesional

Acute mountain sickness (AMS) atau penyakit ketinggian juga menjadi ancaman serius bagi pendaki, terutama di atas 3.000 mdpl. AMS disebabkan oleh kurangnya oksigen di ketinggian dan dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pendaki profesional.

”AMS biasanya ditandai dengan sakit kepala, mual, sesak napas, hingga disorientasi. Jika gejala ini muncul, langkah utama yang harus dilakukan adalah turun ke ketinggian lebih rendah,” papar dr Reyner.

Pencegahan AMS dapat dilakukan dengan aklimatisasi. Yakni, menyesuaikan tubuh secara bertahap dengan perubahan ketinggian. Selain itu, mengonsumsi obat-obatan tertentu bisa membantu mengurangi gejala ringan.

”Risiko AMS bisa diminimalkan dengan mengenali batas tubuh dan tidak memaksakan diri. Jika gejala memburuk, segera lakukan evakuasi,” tegas dokter spesialis ortopaedi dan traumatologi Mayapada Hospital Surabaya dan RS Sido Waras Mojokerto itu.

Baik hipotermia maupun AMS menegaskan pentingnya kesiapan fisik, peralatan yang tepat, serta pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam pendakian. Keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan di alam bebas. (lai/c19/nor)

---

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore