Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Februari 2025 | 14.44 WIB

Mengenal Istilah Trauma Dumping dan Ketahui 6 Cara Efektif untuk Mencegahnya

Ilustrasi seseorang yang sedang bersedih. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang sedang bersedih. (Freepik)

JawaPos.com – Sebagian orang mungkin pernah mengalami hari-hari berat dan memerlukan seorang teman untuk berbagi cerita tentang kecemasan dan kekhawatiran yang dirasakan untuk sekadar mendapatkan dukungan ataupun perspektif lain.

Tak bisa dipungkiri, berbicara tentang perasaan saat masa-masa sulit kepada orang lain yang bisa dipercaya terkadang sangat membantu untuk meluapkan emosi dan memproses perasaan sulit tersebut.

Namun, ada kalanya jika terlalu berlebihan atau oversharing dalam membagikan cerita kepada orang lain. Sehingga, bisa jadi orang lain merasa tidak nyaman dan mendapatkan efek negatif dari cerita-cerita masa sulit yang dibagikan secara terus-menerus.

Istilah tersebut dikenal juga dengan trauma dumping. Cleveland Clinic melansir, trauma dumping berarti berbagi pengalaman yang sangat pribadi, bahkan traumatis secara berlebihan kepada orang lain.

Ini sering kali terjadi ketika pendengar tidak siap untuk menangani intensitas informasi yang dibagikan. Sehingga, hal itu bisa menimbulkan perasaan lelah, tidak siap, bahkan stres kepada si pendengar.

Trauma dumping dapat terjadi dalam percakapan tatap muka, melalui telepon, atau bahkan online melalui media sosial. Makanya, beberapa orang yang memposting sesuatu traumatis di media sosial biasanya mencantumkan peringatan atau trigger warning untuk menghindari trauma dumping.

Lantas, adakah cara untuk menghindari trauma dumping? Dilansir dari Calm.com, ada beberapa langkah efektif yang mungkin bisa Anda lakukan untuk mencegahnya. Simak selengkapnya berikut ini.

1. Tetapkan batasan

Sebelum membagikan pengalaman Anda yang mungkin bersifat traumatis kepada orang lain, ada baiknya jika Anda memilah untuk menetapkan batasan dalam membicarakan topik berat dalam satu percakapan. ini dapat mencegah trauma dumping dan Anda bisa menghormati kebutuhan serta kapasitas pendengar.

2. Identifikasi orang yang dipercaya

Jika Anda merasa kewalahan dan ingin mencegah diri sendiri untuk tidak oversharing, berhentilah sejenak untuk merefleksikan diri Anda. Tanyakan pada diri sendiri apakah ini waktu, tempat, dan orang yang tepat untuk Anda ajak bicara.

Pertimbangkan apakah orang yang akan Anda ajak bicara merupakan orang yang tepat untuk menampung keluh kesah Anda. Bila Anda tidak yakin, tundalah percakapan hingga Anda dan orang yang mendengarkan merasa siap.

3. Tanyakan persetujuan pada orang yang Anda ajak bicara

Sebelum Anda membagikan sesuatu yang intens, tanyakan persetujuan orang yang Anda ajak bicara. Jika orang yang menjadi pendengar merasa tidak siap, ini bukan berarti mereka tidak ingin membantu ataupun tidak peduli dengan Anda. Memberi orang lain kesempatan untuk menolak atau mengiyakan pembicaraan akan mencegah terjadinya trauma dumping.

4. Luapkan perasaan Anda melalui jurnal

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore