JawaPos.com - Empty sella syndrome (ESS) adalah penyakit langka yang menyerang otak karena kosongnya sella tursika atau struktur yang berada di dasar tulang tengkorak. Kondisi ini membuat produksi hormon pada kelenjar pituitari menjadi terganggu.
Seseorang yang mengidap penyakit empty sella syndrome mungkin tidak menimbulkan gejala tertentu. Namun, penyakit ini akan berdampak buruk apabila tidak ditangani sedini mungkin.
Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui gejala dan penyebab dari empty sella syndrome. Berikut pembahasannya seperti mengutip dari laman Kementerian Kesehatan, pada Jumat (5/7).
Penyebab empty sella syndrome
Berdasarkan penyebabnya, empty sella syndrome dibagi menjadi dua jenis antara lain:
1. Empty sella syndrome primer
Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan empty sella syndrome primer terjadi. Namun, kondisi ini seringkali dikaitkan dengan kecacatan sejak lahir yang menyebabkan kelainan pada struktur sella tursika.
Adapun empty sella syndrome primer menyebabkan cairan otak bocor dan mengisi kantung serta menekan kelenjar pituitari. Kebocoran tersebut dapat mengganggu fungsi normal testis dan ovarium
2. Empty sella syndrome sekunder
Empty sella sekunder bisa terjadi karena beberapa kondisi atau penyakit yang dapat menyebabkan gangguan di kelenjar pituitari, seperti:
• Tumor otak
• Terapi radiasi atau operasi di sekitar kelenjar pituitari
• Peningkatan tekanan dalam otak (hipertensi intrakranial)
• Tumor kelenjar hipofisis
• Cedera kepala atau otak
• Kerusakan di kelenjar pituitari akibat komplikasi saat melahirkan (sindrom sheehan)
Gejala empty sella syndrome
Penyakit langka ini memang tidak memiliki gejala tertentu untuk mendeteksinya. Namun, para penderita empty sella syndrome dapat mengalami keluhan berupa:
• Mudah lelah
• Sakit kepala
• Disfungsi ereksi
• Penurunan gairah seks
• Peningkatan tekanan di otak
• Keluarnya cairan otak melalui hidung
• Menstruasi yang tidak teratur atau berhenti (amenorrhea)
• Keluarnya cairan seperti ASI padahal tidak sedang hamil atau menyusui (Galaktorea)
• Gangguan penglihatan akibat saraf mata membengkak karena tekanan di dalam otak (Papiledema)
Komplikasi empty sella syndrome
Empty sella syndrome yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi berupa:
• Hipopituitarisme, yaitu penyakit akibat kekurangan hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari
• Sindrom cushing yaitu berbagai gejala yang muncul akibat kadar hormon kortisol terlalu tinggi
Pemeriksaan diagnosis empty sella syndrome
Melansir dari Cleveland Clinic, seseorang yang mengalami gejala empty sella syndrome akan melakukan prosedur untuk mendiagnosis penyakit ini meliputi:
• CT Scan kepala, untuk melihat kondisi otak secara rinci termasuk kelenjar pituitari
• MRI kepala, untuk memberikan gambaran terkait organ, jaringan, dan struktur di dalam otak seperti sella tursika.
• Pemeriksaan retina, untuk mengetahui jaringan di belakang mata
• Tes darah, untuk memeriksa hormon-hormon di dalam darah
Penanganan empty sella syndrome
Umumnya, kelenjar pituitari yang menyusut akibat empty sella syndrome masih bisa berfungsi secara umum oleh kebanyakan pengidapnya. Untuk itu, pada kondisi tersebut para penderita empty sella syndrome tidak memerlukan pengobatan khusus.
Namun, apabila empty sella syndrome sudah memengaruhi fungsi hormon-hormon di dalam tubuh, maka dokter akan memberikan resep obat pengganti hormon. Kondisi ini jika bisa berujung operasi jika empty sella syndrome menyebabkan cairan otak rembes melalui hidung.