STERIL: Bian Gilang membereskan area dapur kafe tempatnya bekerja saat sudah tutup untuk menjaga kebersihan.
Angka kejadian leptospirosis di beberapa daerah dilaporkan meningkat belakangan ini. Terutama setelah terkena banjir. Tangani dengan tepat dan cepat agar tidak terjadi kegagalan multiorgan yang berisiko kematian.
---
BARU-BARU ini, seorang lansia di Solo dilaporkan meninggal dunia akibat leptospirosis. Penyakit zoonosis itu disebabkan bakteri leptospira interrogans yang menyebar melalui urine hewan. Terutama urine tikus. Hingga kerap disebut ”demam urine tikus”.
”Selain tikus, leptospira interrogans ditemukan pada hewan lain seperti sapi, kuda, babi, anjing, dan kucing,” papar dr Irwin Priyatna K. SpPD FINASIM.
Penularannya melalui kontak langsung antara kulit dan urine hewan pembawa bakteri leptospira. Bisa pula secara tidak langsung. Misalnya, kontak kulit dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan pembawa leptospira. Karena itu, penyebarannya rawan di musim hujan.
”Penularannya lebih cepat apabila ada luka terbuka. Baik luka kecil seperti goresan maupun luka robek. Misalnya, ada luka diabet atau cantengan, lalu banjir, kita tidak tahu ternyata air banjirnya sudah terkontaminasi kencing tikus, masuklah bakteri itu,” jelas dokter spesialis penyakit dalam di RS Petrokimia Gresik tersebut.
Bisa pula melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Dokter Irwin mengimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah. Termasuk menutup makanan dan minuman.
”Itu sering terjadi. Contohnya, pasien saya. Haus, dia minum air di dapurnya yang kotor. Ternyata airnya sudah tercemar kencing tikus,” bebernya.
Masa inkubasi leptospirosis antara 2 hingga 30 hari. Biasanya rata-rata 7–10 hari. Diawali gejala ringan seperti demam tinggi, nyeri otot betis atau paha, sakit kepala, mual, muntah, menggigil, mata merah, badan kuning, diare, sesak napas, dan bintik-bintik merah.
Pada tahap berat, muncul batuk berdarah dan pendarahan pada urine. ”Kadang-kadang dikira stroke kalau tidak jeli karena orangnya jalan ke rumah sakit sambil nyeret kakinya, nyeri otot betis dan paha tadi,” ungkapnya.
Leptospirosis berat bisa mengancam nyawa. Sebab, komplikasinya dapat merusak multiorgan. Mulai gagal ginjal akut, kegagalan hati, hingga meningitis. Dokter Irwin menyebut penanganan leptospirosis harus tepat dan cepat.
”Saya pernah menjumpai kasus, di desa. Pasien awalnya demam, mata merah, badannya kuning, tapi tidak berobat, ya akhirnya parah. Leptospirosis ringan pun bisa sembuhnya ya dengan obat,” imbuhnya.
Pasien leptospirosis akan diberi antibiotik secara intravena supaya bakteri cepat mati dan gejala tidak memberat. Leptospirosis dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Terutama bagi pekerja yang berisiko tinggi tertular seperti petani, peternak, tukang potong hewan, hingga dokter hewan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
