
Petugas melakukan vaskinasi covid-19 tahap I di Rumah Sakit Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, Kamis (14/1/2021). Tahap I vaksin merek Sinovac diberikan kepada pejabat daerah dan tenaga kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan (faskes). Foto: Der
JawaPos.com - Sejumlah populasi yang tak bisa divaksinasi Covid-19 karena tidak memenuhi kriteria. Salah satunya misalnya kelompok pasien diabetes yang tak terkontrol atau hipertensi dan berbagai penyakit lainnya.
Dokter Spesialis Paru dari RS Persahabatan dr. Erlina Burhan menjelaskan, kriteria atau batasan kelompok populasi yang boleh divaksinasi itu bukan untuk menghalangi masyarakat lainnya mendapatkan vaksin. Hanya saja agar masyarakat dengan komorbid bisa terlindungi dari KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).
"Mengapa dibuat kriteria apa kriteria yang layak divaksin dan mana yang tak layak itu semata-mata tujuannya hanya untuk melindungi masy. Jadi bukan menghalang-halangi," tegasnya dalam seminar virtual, Sabtu (23/1).
Baca Juga: Tim Riset Sinovac Jelaskan Sebab 7 Orang Kena Covid-19 Saat Uji Klinik
"Berterus-teranglah tentang penyakit Anda dan kedua kalau sekiranya ada yang punya penyakit komobid itu dari sekarang mumpung belum dapat giliran lakukanlah upaya upaya untuk mengontrol penyakitnya," ungkapnya.
Menurut dr. Erlina contohnya seseorang dengan riwayat hipertensi. Hipertensi yang tak terkendali atau tidak terkontrol tak termasuk dalam populasi yang bisa divaksinasi.
"Misalnya tensinya tinggi sekali itu tidak termasuk. Orang yang layak divaksinasi tetapi kalau pasiem tersebut sehat dan mampu dengan minum obat teratur kemudian berobat ke dokter buat tensinya jadi terkontrol dan kalau syaratnya tensi dibawah 140 per 90 maka itu orang yang layak divaksin," ujarnya.
Demikian juga pasien diabetes. Penyakit diabetes memiliki tingkatan dan gradasi keparahan.
"Jadi sebaiknya kalau sakit diabetes datanglah ke dokter periksanakan diri dan cari tahu status Anda di mana. Jadi vaksinasi bukan hanya mencegah Covid-19 tapi membuat orang memikirkan kesehatannya. Jadi mulailah mengetahui status kesehatan kita," katanya.
"Ini prinsip kehati-hatiannya vaksinasi," lanjutnya.
Lalu jika sudah divaksinasi mengapa tertular? Memang benar jika sudah divaksinasi bisa memiliki kekebalan. Akan tetapi dengan kekebalan sedemikan rupa kalau terpapar dalam durasi cukup lama dan frekuensi yang cukup sering, membuat viral load atau jumlah virus terlampau banyak.
"Maka kekebalan yang sudah terbentuk tak mampu mengatasi virus yang banyak tadi sehingga kemudian dia jadi terjangkit dan positif. Tapi ingat, karena ada unsur kekebalan dan perlawanan dalam tubuh biasanya kalaupun sakit ringan ringan saja," kata dr. Erlina.
"Maka tetap enggak ada ruginya divaksinasi. Risiko sakit kecil kemudian kalupun ada risiko menjadi sakit maka penyakitnya lebih ringan," tutupnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=dOMmKzivHO0

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
