Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Juli 2020 | 20.18 WIB

Vaksin Covid-19 Asal Oxford Diklaim Aman dan Buktikan Kekebalan

OXFORD UNIVERSITY/BBC - Image

OXFORD UNIVERSITY/BBC

JawaPos.com - Vaksin Covid-19 untuk melawan virus Korona yang dikembangkan oleh University of Oxford diyakini aman dan memicu respons imun. Uji coba yang melibatkan 1.077 orang menunjukkan injeksi untuk membuat antibodi dan sel-T tersebut dapat melawan virus Korona.

Dilansir dari BBC, Selasa (21/7), Inggris telah memesan 100 juta dosis vaksin. Bagaimana cara kerja vaksin?

Vaksin itu disebut ChAdOx1 nCoV-19. Vaksin ini terbuat dari virus yang direkayasa secara genetika yang menyebabkan pilek pada simpanse.

Para ilmuwan melakukan ini dengan mentransfer instruksi genetik untuk 'meningkatkan protein' Coronavirus. Ini berarti vaksin akan menyerupai Coronavirus dan sistem kekebalan tubuh dapat belajar bagaimana cara menyerangnya.

Apa itu antibodi dan sel-T?

Antibodi adalah yang utama dalam melawan Covid-19. Akan tetapi ini hanya satu bagian dari pertahanan kekebalan tubuh kita.

Antibodi adalah protein kecil yang dibuat oleh sistem kekebalan yang menempel pada permukaan virus. Antibodi dapat menonaktifkan Coronavirus.

Sel-T, sejenis sel darah putih, membantu mengoordinasikan sistem kekebalan tubuh dan mampu mengenali sel-sel tubuh mana yang telah terinfeksi. Lantas menghancurkannya. Hampir semua vaksin efektif menginduksi respon antibodi dan sel-T.

Tingkat sel T memuncak 14 hari setelah vaksinasi dan tingkat antibodi memuncak setelah 28 hari.
Profesor Andrew Pollard, dari kelompok penelitian Oxford mengatakan kepada BBC, mereka puas dengan hasil tersebut.

"Kami sangat senang dengan hasil yang diterbitkan karena kami melihat antibodi dan sel-T bisa menetralkan. Ini sangat menjanjikan dan kami percaya jenis respons yang mungkin terkait dengan perlindungan," katanya.

"Tapi pertanyaan kunci yang ingin diketahui semua orang adalah apakah vaksin itu berfungsi, apakah itu menawarkan perlindungan, dan kita sedang menunggu," tambahnya.

Studi ini menunjukkan 90 persen orang mengembangkan antibodi penawar setelah satu dosis. Hanya 10 orang yang diberi dua dosis dan semuanya menghasilkan antibodi penawar.

"Kami tidak tahu dosis yang dibutuhkan untuk perlindungan, tetapi kami dapat memaksimalkan respons dengan dosis kedua," kata Prof Pollard kepada BBC.

Pollard sendiri mengungkapkan vaksin ini memiliki efek samping. Meski tidak ada efek samping berbahaya dari penggunaan vaksin, tapi 70 persen orang dalam percobaan mengalami demam atau sakit kepala. Para peneliti mengatakan ini bisa dikelola dengan pemberian parasetamol pada pasien.

"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kami dapat memastikan apakah vaksin kami akan membantu mengelola pandemi Covid-19, tetapi hasil awal ini menjanjikan," tutup
Prof Sarah Gilbert, dari University of Oxford, UK.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=_EqvJizX-EU

 

https://www.youtube.com/watch?v=zNnE8tK0pV4

 

https://www.youtube.com/watch?v=2Pk4FTOWtPQ

 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore